Lanjut ke konten

Cerita dari Selandia Baru: Prinsip Kehati-hatian, Keterbukaan Informasi, dan Peran Masyarakat

Penanganan COVID-19 di Selandia Baru termasuk salah satu yang berhasil di dunia. Prinsip kehati-hatian yang diterapkan pemerintah, lembaga, maupun institusi pendidikan dan keterbukaan informasi, serta peran masyarakat menjadi faktor penting untuk menekan penyebaran dan angka kematian.

Kawal COVID-19's Avatar
Kawal COVID-19Tim administrator situs KawalCOVID19.id

Penulis: Sari Karmina (lulusan PhD in Education dari University of Auckland, Selandia Baru).

Setelah kasus pertama COVID-19 di Indonesia diumumkan (2 Maret), hanya beberapa hari berselang dari kasus pertama di Selandia Baru (NZ), saya yang masih tinggal di Auckland langsung membatalkan semua penerbangan ke Jakarta. Daripada bergegas mudik, saya yakin tinggal di NZ adalah keputusan tepat, mengingat baiknya penanganan pemerintah di bawah kepemimpinan Jacinda Ardern saat menghadapi wabah campak di awal 2019 dan tragedi penembakan di Masjid Christchurch setahun silam. 

Tepat sebulan sebelum kasus pertama diumumkan, Menteri Kesehatan NZ mendirikan Pusat Koordinasi Kesehatan Nasional untuk menanggulangi wabah COVID-19. Selanjutnya, pada 3 Februari, NZ memperketat akses masuk bagi semua warga asing yang baru datang dari Tiongkok. Namun, hal ini tidak berlaku pada warga negara NZ dan permanent residents (WNA yang secara hukum mempunyai hak-hak yang sama dengan warga negara NZ). Pada hari yang sama, saya menerima email dari sekolah anak-anak saya bahwa siswa yang kembali berlibur dari Tiongkok dan Taiwan harus mengisolasi diri selama 14 hari sebelum masuk sekolah. 

Pemerintah juga mengimbau semua universitas di NZ untuk membebastugaskan mahasiswa yang baru kembali dari Tiongkok dan menunda registrasi mahasiswa baru dari Tiongkok. Hal ini membuat universitas mengalami kerugian besar karena 50 persen mahasiswa asing berasal dari Tiongkok. University of Auckland, misalnya, mengalami kerugian sebesar 30 juta New Zealand Dollar (setara 285 milyar Rupiah). Bisnis pariwisata juga terkena dampak besar karena jumlah wisatawan Tiongkok adalah yang terbesar kedua setelah turis dari Australia.

Pada 28 Februari, NZ mengumumkan kasus pertama, yakni seseorang yang kembali dari Iran melalui Bali. Pada hari itu juga, semua penerbangan dari Iran diperketat. Pemerintah juga memulai kampanye intensif tentang bahaya COVID-19 dengan slogan “Unite against COVID-19” lewat TV, media sosial, dan NZ Herald (koran yang paling banyak dibaca). Melalui informasi yang diperbarui setiap hari melalui media cetak, TV, dan website resmi pemerintah, masyarakat bisa mengetahui kluster-kluster yang terkontaminasi untuk menghindarinya. 

Sekolah-sekolah tidak kalah informatif mengenai apa yang sedang dan akan mereka lakukan. Kasus ketiga di NZ rupanya keluarga dekat dua siswa SMA yang satu sekolah dengan anak sulung saya. Hampir setiap hari, pihak sekolah memberi kami ringkasan riwayat orang yang berkontak dengan kluster kerabat siswa tersebut dan kondisi terkini mereka. Contohnya, bahwa kedua siswa tersebut sudah diisolasi dan hasil tes mereka negatif. Keterbukaan informasi ini mengurangi rasa cemas saya sebagai orang tua. Tindakan pencegahan juga diambil. Misalnya, tempat duduk diberi jarak satu meter; apel setiap pagi ditiadakan; pembelajaran kelompok tidak dilakukan; dan siswa diimbau untuk jaga jarak. Sehari setelah kasus kedelapan diumumkan pada 15 Maret, SMA anak saya memberitahukan rencana percobaan online learning dalam dua hari ke depan, sebuah langkah yang belum diterapkan oleh sekolah-sekolah lain. 

Pada 21 Maret, jumlah kasus positif mencapai 13 orang. Menanggapi ini, Jacinda Ardern mengumumkan tingkat peringatan (Alert Level) yang diberlakukan secara berjenjang berdasarkan perkembangan jumlah kasus:

  • Alert Level 1 (28 Februari): Ada yang terinfeksi COVID-19 tapi situasi masih dalam kendali. Akses masuk diperketat, orang terdekat pasien ditelusuri, dan perkumpulan massal dibatalkan. Masyarakat masih beraktivitas seperti biasa tapi sudah mulai waspada. 
  • Alert Level 2 (21 Maret): Ada risiko bahwa jumlah yang terinfeksi semakin banyak. Masyarakat diminta untuk menjaga jarak dan bekerja dari rumah. Perbatasan diperketat. Pusat kota Auckland (Central Business District/CBD) mulai sepi dari turis seiring ditutupnya restoran dan toko. 
  • Alert Level 3 (23 Maret): Penyebaran COVID-19 susah dikendalikan dengan jumlah kasus yang terinfeksi 102 orang. Tempat umum dan pusat bisnis ditutup, kecuali yang esensial, seperti rumah sakit, apotek, dan toko bahan makanan. Sekolah mulai mempersiapkan online learning.
  • Alert Level 4 (hanya 48 jam sejak Alert Level 3): Penularan menyebar, dan lockdown diberlakukan. Semua orang harus mengisolasi diri di rumah dan hanya boleh keluar untuk keperluan penting, seperti ke dokter atau apotik dan berbelanja. 

Pada hari pertama lockdown, jalanan mulai senyap. Bus umum masih beroperasi seperti biasa, terutama yang melintasi rumah sakit dan swalayan. Tiket bus digratiskan, tetapi kami harus tetap memakai kartu AT (Auckland Transport) Hop untuk naik. Berolahraga atau sekadar menikmati indahnya alam tetap boleh dilakukan di dekat rumah asal menjaga jarak dua meter dari orang yang bukan dari bubble (orang yang tinggal serumah). Kita tidak diperkenankan berhenti lama di tempat umum selama keluar rumah. 

Kegiatan belanja juga dilakukan seperti biasa. Hanya saja, kami harus menjaga jarak 1 meter dari pembeli lain dan pembelian setiap barang dibatasi maksimal 2 buah. Sistem antrian memakai layanan SMS, yakni pengunjung tetap menunggu di mobil di parkiran atau di luar gedung sampai mendapatkan SMS yang memperbolehkan mereka untuk masuk. SMS ini wajib ditunjukkan kepada petugas agar mereka diizinkan berbelanja. Tidak semua swalayan memberlakukan sistem ini, tapi ini sangat membantu untuk menghindari kerumunan orang di dalam. Belanja online pun masih tersedia, misalnya daging halal dan peralatan dapur. Tidak ada kerusuhan atau kepanikan berlebih karena pemerintah sudah mengimbau jauh-jauh hari, dan kami mendapat informasi yang akurat.

Untuk menghibur anak-anak selama lockdown, beberapa orang Kiwi (sebutan untuk orang NZ) mengajak masyarakat untuk menaruh boneka beruang di depan rumah, di jendela, atau tempat-tempat yang bisa dilihat dari luar rumah. Idenya adalah mengajak anak-anak untuk menemukan boneka ini seperti permainan mencari harta karun. Kegiatan Teddy Bear Hunt ini terinspirasi oleh buku Michael Rosen berjudul “We’re Going on a Bear Hunt”. Anak bungsu saya ikut berpartisipasi dengan menaruh “Brownie”, boneka beruang kesayangannya di pagar flat kami. 

E:\Vidya\Organization\S3\KawalCovid19\IMG-20200413-WA0001.jpg

Brownie, boneka kesayangan anak bungsu saya, dalam Teddy Bear Hunt

Di akhir pekan, kami berkeliling di sekitar rumah untuk mencari teddy bear yang bersembunyi di balik jendela dan mendokumentasikan temuan kami dalam foto. Kegiatan ini didorong oleh Jacinda Ardern sendiri sehingga kami tambah semangat. Sekolah-sekolah juga membantu orang tua dalam mengatur kegiatan home learning melalui website. Konten hiburan sehat juga tersedia. Misalnya, untuk olahraga, saya dan anak saya yang bungsu berlatih jump-jam dan senam dari kanal YouTube The Body Coach TV

Di samping itu, pemerintah memberi bantuan finansial untuk pemilik bisnis agar mereka tetap bisa menggaji pegawai. Untuk pegawai tetap seperti suami saya yang bekerja di restoran, mereka mendapat sekitar 5,5 juta Rupiah per minggu, dan untuk pekerja paruh waktu sekitar 3,5 juta per minggu. Bagi kami, bantuan ini cukup untuk membayar sewa rumah dan makan untuk empat orang dalam satu minggu.

Selandia Baru sudah memasuki minggu ketiga ketika saya menulis ini. Pengalaman ini tidaklah mudah bagi kami secara mental dan sosial, tetapi kami berusaha menikmatinya dan menaati arahan pemerintah. Penetapan lockdown ini juga keputusan yang sulit bagi pemerintahan Jacinda Ardern karena kondisi ekonomi global yang menurun selama masa kepemimpinannya (setidaknya wacana itu yang selalu dipakai untuk melawan Ardern di pemilu tahun ini). Namun, Jacinda Ardern memilih untuk menyelamatkan lebih dari 4,5 juta orang, termasuk saya yang bukan warga negaranya, dari COVID-19 daripada memperbaiki citra politik. 

After all, let’s unite against COVID-19.