Lanjut ke konten

Informasi terkini – 30 Maret 2020

Monitor pemberitaan media perharinya terkait Covid-19

Kawal COVID-19's Avatar
Kawal COVID-19Tim administrator situs KawalCOVID19.id

TOPIK: SEPUTAR COVID-19 DI DUNIA

Perusahaan Korea Pembuat Tes Covid19 telah Mengantongi Izin Awal dari FDA

29 Maret 2020,
Tiga perusahaan Korea pembuat tes kit Covid19 telah mendapatkan izin awal dari Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat, lembaga setara denga BPOM, kata Menteri Luar Negeri kemarin . Izin awal dari FDA memberikan lampu hijau bagi perusahaan Korea untuk menjual produknya di Amerika Serikat, di mana kasus Coronavirus yang telah dikonfirmasi telah melampaui 100.000, seperti yang dinyatakan oleh seorang pejabat di Kemenlu. Ada lima tes kit yang diproduksi perusahaan lokal di Korea Selatan yang memproduksi tes kit CoViD-19 yang telah mendapatkan izin darurat dari pemegang kebijakan medis Seoul, Tes kit tersebut adalah Seegene’s Allplex, Kogene Biotech’s Power Check, Solgent’s DiaPlex Q, SD Biosensor’s Standard M dan BioSewoom’s Real-Q. Seegene dan Kogene diketahui mengajukan permohonan pada FDA pada 24 Maret 2020.  Semua tes ini berbasis real-time polymerase chain reaction atau RT-PCR, yang memberikan hasil dalam waktu paling cepat enam jam.

(Korea Selatan, Test Kit, FDA USA, approval)

Jepang Berisiko Terkena Gelombang Kedua Coronavirus, melaporkan kenaikan kasus tertinggi dalam sehari.

28 Maret 2020,
Tingkat infeksi yang rendah di negara Jepang dipertanyakan. Tingginya lonjakan kasus di Tokyo yang meningkatkan kekhawatiran bahwa Jepang telah berpuas diri dan harus siap menghadapi ‘gelombang kedua’ infeksi koronavirus CoViD-19. Tokyo melaporkan 63 kasus baru pada hari Sabtu, rekor kenaikan satu hari yang menjadikan total korban di Tokyo menjadi 362.  Kenaikan ini merupakan yang kedua kalinya dalam tiga hari setelah pada 26 Maret ditemukan 47 kasus baru dalam satu hari yang merupakan rekor tertinggi saat itu. Para ahli mencoba menganalisis mengapa kasus di Jepang relatif sedikit padahal secara teoritis, Jepang rentan terhadap epidemi dengan seperempat dari populasinya berusia di atas 65 tahun. Sementara ahli lain mengkritisi rendahnya kasus di Jepang adalah karena Jepang melakukan tes Coronavirus sangat selektif. Hanya memfokuskan pada orang-orang yang sudah memiliki gejala kritis sebagai cara untuk menghindari terjadinya beban rumah sakit yang berlebihan.    

(Jepang, Tokyo, Rekor kasus per hari) 

Singapura melaporkan kematian COVID-19 ketiga, satu klaster baru.

29 Maret 2020,
Seorang pria berusia 70 tahun, warganegara Singapura, meninggal dunia karena komplikasi yang disebabkan oleh infeksi COVID-19. Chung Ah Lay, pasien nomer 109, memiliki sejarah tekanan darah tinggi dan kolesterol. Dia terkonfirmasi positif tanggal 2 Maret setelah dirawat di Singapore General Hospital sejak 29 Februari. Almarhum tidak memiliki riwayat bepergian ke negara-negara yang terdampak wabah COVID-19 dan merupakan salah satu kasus yang tidak terhubung klaster mana pun. Hari ini, Singapura melaporkan 42 kasus baru, 18 di antaranya transmisi lokal dan satu klaster baru di sebuah butik/salon pengantin di daerah Yishun. Ini menandai terjadinya transmisi lokal dalam beberapa hari terakhir yang memicu pemerintah Singapura memperketat aturan jaga jarak dan menutup acara-acara pengumpulan massa, tempat-tempat kursus anak-anak, dan tempat-tempat hiburan.

TOPIK: REKOMENDASI FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS INDONESIA

Pasien COVID-19 Indonesia Bisa Menembus Jumlah 2,5 Juta Orang Tanpa Intervensi 

28 Maret 2020,
Berdasarkan sejumlah literatur, tim FKM-UI mengambil asumsi dari setiap kasus Covid-19 akan menginfeksi setidaknya dua orang lainnya. Waktu yang dibutuhkan untuk jumlah kasus menjadi dua kali lipat jumlah kasus sebelumnya adalah empat hari. Asumsi lainnya yang digunakan untuk menghitung batasan jumlah kasus tertinggi ini adalah jumlah populasi orang dewasa (> 20 tahun) yang mencapai sekitar 172 juta. Tim dari FKM UI juga menarik data dari awal Februari 2020 yang diprediksi sebagai awal kemunculan kasus Covid-19 di Indonesia.Dari asumsi yang digunakan tersebut, didapatkan angka mendekati 2,5 juta kasus apabila tidak ada intervensi apapun yang dilakukan. Bila ada intervensi tetapi rendah, kasusnya jadi lebih sedikit menjadi sekitar 1,7 juta kasus. Bila dilakukan intervensi moderat, kasusnya sekitar 1,2 juta. Sedangkan dengan intervensi yang tinggi, diprediksi mencapai sekitar 500.000 kasus.