Lanjut ke konten
Kawal COVID-19
Mode warna

Ingat Italia (4 Minggu di Depan Indonesia)

Tulisan ini menjabarkan analisis tentang intervensi yang dilakukan pemerintah Italia untuk menekan laju jumlah kasus terkonfimasi positif COVID-19 di Italia dan dampaknya.

Ruly Achdiat Santabrata's Avatar
Ruly Achdiat SantabrataSeasoned Integration Architect / Data Architect at TIBCO Software, Ltd (tibco.com). Ruly helps many well known companies in complex integration and data projects covering Asia Pacific and Europe. Lives in London, England

Unduh selengkapnya (file PDF) di sini.

Jika pemerintah Italia tidak melakukan intervensi, jumlah kasus terkonfirmasi COVID-19 di Italia diperkirakan bisa menembus angka satu juta. 

Bersyukur skenario itu tak terjadi. Pada tanggal 25 Maret, kasus terkonfirmasi COVID-19 berjumlah 74.000, menempati urutan kedua setelah Tiongkok.

Sekarang mari kita berhitung. Jika pemerintah Italia tidak melakukan intervensi, kapan 74.000 kasus terkonfirmasi akan dicapai dan bagaimana intervensi memperlambat peningkatan jumlah kasus terkonfirmasi?

Sejak jumlah kasus terkonfirmasi menembus angka lebih dari 100 kasus pada tanggal 23 Febuari, laju pertumbuhan kasus terkonfirmasi di Italia mengikuti rumus naik 2 kali lipat setiap 2.5 hari. 

Kasus terkonfirmasi tercatat sebanyak 155 pada 23 Febuari. Dengan pola kenaikan dua kali lipat setiap 2.5 hari, maka kasus terkonfirmasi akan meningkat sebanyak 477 kali lipat dalam 17 hari. Hal ini berarti 74.000 kasus terkonfirmasi akan terjadi pada tanggal 7 Maret. 

Lalu, apa intervensi pemerintah sehingga 74.000 kasus terkonfirmasi tersebut baru terjadi pada tanggal 25 Maret, yang artinya lebih lambat 18 hari?

Saya coba menganalisa dalam dua bagian. Masing-masing bagian akan melihat hasil intervensi terhadap laju penambahan dan perlambatan kasus.

Bagian 1

21 Febuari: Lockdown di 11 kota.

22 Febuari: Acara publik di beberapa provinsi dibatalkan. 

24 Febuari: Sekolah mulai diliburkan.

26 Febuari: Tes dalam skala besar mulai dilakukan dan hand sanitizer tersedia dimana-mana.

Intervensi pemerintah yang bersifat medium (bukan low atau sekadar himbauan) mulai menampakkan hasil setelah 10 hari. Laju penyebaran virus melambat sejak 2 Maret, menjadi naik 2 kali lipat setiap 3.7 hari. 

Pada 2 Maret, kasus terkonfirmasi berjumlah 2.036. Dengan pola kenaikan 2 kali lipat setiap 3.7 hari, maka akan terjadi peningkatan kasus terkonfirmasi sebanyak 36 kali lipat dalam 10 hari. Sehingga sebanyak 74.000 kasus terkonfirmasi akan terjadi pada 12 Maret. 

Hal ini berarti penyebaran virus melambat lima hari dari perkiraan awal pada tanggal 7 Maret. 

Namun, beberapa warga masih menunjukkan sikap santai padahal rumah sakit sudah sangat kewalahan.

Bagian 2

Pemerintah lebih agresif melakukan intervensi.

2-7 Maret: Lockdown terus diberlakukan di beberapa kota yang memiliki tingkat outbreak yang tinggi. 

9 Maret: Perdana Menteri Italia mengeluarkan keputusan lockdown untuk seluruh negeri Italia. 

Intervensi pemerintah yang sangat agresif ini mulai menampakkan hasil setelah sembilan hari. Laju penularan virus melambat mulai 11 Maret menjadi naik 2 kali lipat setiap 6.7 hari

Pada 11 Maret kasus terkonfirmasi berjumlah 12.462. Dengan pola kenaikan 2 kali lipat setiap 6.7 hari, maka akan terjadi peningkatan kasus terkonfirmasi sebanyak 6 kali lipat dalam 14 hari. Hal ini berarti 74.000 kasus terkonfirmasi baru terjadi pada tanggal 25 Maret, atau 13 hari lebih lambat dari perkiraan awal pada tanggal 12 Maret. 

Secara garis besar seluruh tipe intervensi pemerintah Italia berhasil memperlambat penyebaran virus selama 18 hari. 

Berikut ringkasan masing-masing intervensi:

  • Bagian 1: Intervensi medium yang melambatkan laju penyebaran selama lima hari. Hasil mulai terlihat di hari kesepuluh.
  • Bagian 2: Intervensi agresif yang melambatkan laju penyebaran selama 13 hari. Hasil terlihat mulai hari kesembilan.

Perlu diingat bahwa intervensi medium diambil saat kasus terkonfirmasi baru berjumlah 155 kasus. Sedangkan intervensi agresif diambil saat kasus terkonfirmasi telah mencapai 2.036

Selain itu, penting untuk dicatat bahwa efek dari intervensi pemerintah Italia yang saya bahas di sini hanya dalam konteks perlambatan laju jumlah kasus terkonfirmasi. Pada akhirnya, jumlah kasus terkonfirmasi tetap sama, yaitu 74.000 kasus. Sampai saya menulis artikel ini, status terkonfirmasi tetap naik. 

Kapan puncaknya? 

Banyak teori tentang ini, dan bukan merupakan wilayah saya untuk membahasnya. Perlu juga diperhatikan bahwa saya belum menghubungkan intervensi pemerintah Italia dengan tingkat kematian, yang sebenarnya juga penting. 

Walau terhitung terlambat, pemerintah Italia belajar dari intervensi tingkat medium dan meningkatkannya menjadi lebih agresif untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Tweet saya tentang hal ini dapat dilihat di https://twitter.com/kangsantabrata/status/1243204616537411585?s=21

———-

Indonesia berada empat minggu di belakang Italia. Apakah ada pelajaran yang bisa diambil untuk Indonesia? 

Laju pertambahan kasus terkonfirmasi di Indonesia saat ini adalah 2 kali lipat setiap 4 hari. Artinya jumlah 100.000 kasus bisa dengan mudah dicapai pada minggu ketiga bulan April atau awal Ramadhan. Tweet saya tentang hal ini dapat dilihat di 
https://twitter.com/kangsantabrata/status/1242431791115493377?s=21

Saya bukan menakut-nakuti melainkan hanya memberi data dan fakta untuk kemudian melakukan prediksi sesuai contoh dari negara-negara yang sudah lebih awal mengalami. 

Semoga ada perubahan bentuk intervensi dari pemerintah, atau semoga saya yang salah, sehingga prediksi ini keliru dan angka penyebaran menjadi jauh lebih kecil. Itu doa saya.

Semoga Tuhan mengampuni kita semua.

Sumber data: https://github.com/CSSEGISandData/COVID-19

Cerita lengkap: kcov.id/ingatitalia

Visualisasi: https://1drv.ms/u/s!AgItBtFqP6Vxg8ZJQWfIr1iz01sAmw