Lanjut ke konten

Saya Sudah Kehilangan Ayah, Beberapa Anggota Keluarga Besar, dan 11 Teman

Kisah nyata dari relawan KawalCovid19.

Kawal COVID-19's Avatar
Kawal COVID-19Tim administrator situs KawalCOVID19.id

Kisah ini adalah kisah nyata seorang teman dari relawan KawalCovid19. 

Bandung, 26 Maret, 2020, pukul 17:50 WIB. Papa menghembuskan napas terakhirnya di salah satu RS rujukan di Bandung sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) COVID-19 tanpa ada keluarga yang mendampingi di menit-menit terakhirnya. Tidak ada kontak lagi saat seorang pasien PDP memasuki ruang isolasi. Adik yang mengantar pun tidak mendapatkan waktu untuk say goodbye karena dianggap sudah darurat walau Papa saat itu masih sadar 100%.

Sore harinya waktu Amsterdam, atau malam hari di Bandung, setelah selesainya proses pemakaman Papa yang tidak bisa saya hadiri karena saya terkena lockdown di Eropa, saya posting tentang kepergian Papa di Facebook dan Instagram. Membaca satu-persatu ucapan belasungkawa dari teman dan saudara yang jumlahnya ribuan. Membaca postingan mantan murid Papa, rekan kerjanya, teman-temannya yang men-tag saya ….

Selain saya, kerabat juga tidak ada yang hadir di pemakaman Papa. Hanya 2 adik saya dan seorang sahabat keluarga yang hadir dalam jarak aman, dengan mengenakan masker. Pemakaman pun tidak lebih dari 30 menit. Mama yang telah dipanggil pulang di 2018 diantarkan oleh ratusan orang, Papa hanya diantarkan tiga orang ke liang lahat. 

Papa meninggal sebelum kebagian test kit sehingga tidak diketahui apakah positif atau negatif COVID-19. Papa hanya dilabeli sebagai PDP. Kematiannya tidak tercatat dalam statistik yang diumumkan jubir Kemenkes tiap harinya. Namun karena Papa mengalami berbagai gejala COVID-19 di hari-hari terakhirnya, termasuk sesak napas dan perlu menggunakan ventilator, ia dimakamkan dengan Protap COVID. Petinya langsung disegel, dibungkus plastik, semua petugas mengenakan alat pelindung diri (APD). 

Yang bikin lebih miris adalah bahwa Papa, yang mengabdikan hidupnya untuk orang lain 24/7, dipanggil Tuhan tanpa diagnosis yang pasti, dan ditolak oleh warga setempat ketika akan dimakamkan hingga polisi harus turun tangan. Untungnya ada teman Papa yang punya kontak di pemakaman lain, sehingga Papa masih bisa disemayamkan dengan terhormat.

Izinkan saya membagi hari-hari terakhir Papa dan apa yang terjadi sesudahnya bagi pelajaran kita semua.

25 Maret 2020

Saya ngobrol dengan Papa walau singkat karena ia terus menahan batuk. Saya yang belajar ilmu medis sebetulnya sudah khawatir sejak 10 hari sebelumnya, namun Papa tidak menunjukkan gejala-gejala COVID-19 pada umumnya. Seminggu pertama, Papa hanya sakit kepala ringan dan batuk. Saat itu belum banyak informasi yang diketahui soal gejala-gejala COVID-19 yang tidak umum. 

Hanya di dua hari terakhir Papa demam dan batuk parah hingga muncul bercak darah. Namun Papa masih bisa bernapas dengan baik sehingga dokter hanya menyarankan isolasi mandiri, sesuai SOP Kemenkes. 

26 Maret 2020

Papa dibawa ke rumah sakit dan divonis sudah gawat oleh dokter jaga sehingga harus masuk ruang isolasi. Saat di rumah sakit, semua ventilator sedang dipakai. Papa menunggu 4-5 jam sampai ada ventilator tersedia. Namun setelah itu ruangan masih harus dibersihkan dulu, ventilator disterilkan, dan pembiusan untuk intubasi pun harus dilakukan. Selama menunggu, Papa diberikan oksigen lewat selang. 

Saat kami masih menunggu kabar intubasi Papa, kami diberitahu bahwa Papa sudah menghembuskan napas terakhirnya.

Di tanggal ini, di Indonesia baru ada 893 kasus positif yang terdeteksi. Sementara di Belanda dan Jerman sudah ada hampir 60.000 kasus, dan saya sudah diam di rumah selama 14 hari. 

Di hari-hari berikutnya

Papa sudah pergi ke tempat yang lebih baik. Tapi nggak ada yang menyiapkan mental saya untuk menghadapi kabar dari Indonesia di hari-hari sesudahnya.

Di keluarga besar saya, satu demi satu kerabat mulai sakit dan akhirnya dipanggil Tuhan. Mereka semua memang berada di usia yang berisiko tinggi. Mereka tinggal di berbagai kota di Jawa dan tidak memiliki riwayat kontak fisik dengan Papa beberapa minggu sebelum Papa pergi. Semuanya mengalami penurunan kesehatan yang cukup cepat seperti Papa. Dalam 1-2 hari kondisinya memburuk, sesak napas karena paru-paru sudah penuh dengan cairan, hingga pihak rumah sakit sudah tidak dapat berbuat apa-apa. 

Karenanya saya selalu cemas bila mendapatkan pesan WhatsApp – saya khawatir bila ada berita bahwa si A atau si B di rumah sakit, kritis, atau meninggal …

3 April 2020

Di titik ini, saya mengatakan ke adik-adik saya, “Anggap semua orang di keluarga kita positif. Jangan keluar rumah kecuali perlu sekali, pakai masker kalau keluar. Cuci tangan bila ada kontak dengan barang-barang yang tidak diketahui asal-usulnya.” Mereka kini (per 18 April) sudah 3 minggu melakukan isolasi mandiri dan hasil rapid test terakhir menyatakan negatif. Hasil CT-scan paru-paru dan tes darah pun dinyatakan sehat.

Atas anjuran atau mungkin paksaan saya, 12 orang di keluarga besar saya, terutama yang sudah berumur, sudah berinisiatif meminta CT Scan atau x-ray thoraks di kota masing-masing. Karena menunggu jatah tes swab bisa lama. Sampai di tahap ini, semua orang paru-parunya bersih, tidak menunjukkan indikasi COVID-19. 

Tapi mengetahui kondisi negara yang baru mengetes 144 orang per 1 juta penduduk per tanggal 18 April, saya tidak pernah berhenti khawatir dan memikirkan kondisi keluarga di Indonesia.

Sebagai WNI yang sudah kehilangan 5 kerabat dan 11 teman dalam waktu 3 minggu sejak Papa tidak ada, saya memohon kepada pemerintah Indonesia untuk secepat mungkin melakukan testing massal dan mengetes semua PDP. Saya tahu ini tidak mudah karena mesin PCR mahal, semua negara berebut membeli, dan tenaga ahli Indonesia yang bisa melakukan ekstraksi dan analisis tidak banyak. I know, karena dulu saya kuliah bioteknologi.

Tapi pengetesan massal adalah kunci untuk mengetahui pusat-pusat penularan dan ke mana negara harus mengerahkan daya upaya lebih untuk penanganan wabah. Tidak ada cara lain. 

Dan izinkan saya mengingatkan semua orang di Indonesia: wabah ini sudah meluas walaupun jumlah kasus positif “baru” di angka 6.000-an (per tanggal 18 April). Tes massal akan mengungkapkan angka yang jauh lebih besar dan membuat kita jauh lebih hati-hati. Walaupun merasa sehat walafiat, kita masih mungkin menjadi penular virus itu. Jangan anggap remeh wabah ini. Diamlah di rumah untuk sementara waktu. Jaga jarak dengan orang lain. Cuci tangan lah sesering mungkin. 

Saya nggak tahu siapa yang kemungkinan memaparkan COVID-19 ke Papa saya, dan itu tidak penting lagi. We’re in this pandemic together – tua dan muda, beragama atau tidak, kaya atau miskin, berpendidikan atau tidak, semua bisa kena!

Namun jangan juga kucilkan mereka yang berstatus ODP, PDP dan positif. Kita justru harus berempati dan meringankan beban mereka ketika diisolasi. Kirimi mereka doa, pesan penyemangat, makanan bergizi, itu sudah sangat membantu.
Wabah ini akan lebih cepat berlalu bila kita semua berhati-hati, berkepala dingin, dan bekerja sama. We’re in this together, kita bisa lalui ini bersama.