Lanjut ke konten
Kawal COVID-19
Mode warna

Tiga Hal yang Penting untuk Kebijakan Mitigasi Wabah COVID-19 Berdasarkan Data Indonesia

Mari simak pola-pola pasien COVID-19 di Indonesia berdasarkan data dan bagaimana kebijakan mitigasi yang tepat.

Kawal COVID-19's Avatar
Kawal COVID-19Tim administrator situs KawalCOVID19.id

Gindo Tampubolon (Universitas Manchester) dan Eduwin Pakpahan (Universitas Newcastle)

Manchester, Hari Kartini.

Wabah Covid-19 di Indonesia menunjukan adanya tiga hal yang penting diperhatikan dalam mengambil kebijakan mitigasi wabah, yakni:

  1. Penyakit ini cenderung memberikan dampak yang lebih besar dan berat pada orang dengan tiga penyakit bawaan, yakni diabetes, darah tinggi dan jantung.
  2. Mayoritas pasien yang mengalami dampak parah akibat penyakit bawaan adalah laki-laki di usia produktif, karena mereka tidak sadar akan kondisi kesehatan mereka sendiri
  3. Dampaknya akan sangat besar pada roda perekonomian Indonesia, karena besarnya angka pasien yang sakit bahkan meninggal akibat Covid-19 adalah dari kelompok umur produktif, yang merupakan penggerak roda ekonomi utama Indonesia.

Bukti menunjukkan bahwa sebagian besar (~80%) orang yang tertular virus SARS-CoV-2 hanya mengalami gejala ringan dan cukup mengisolasi diri di rumah sampai sembuh. Dari yang perlu dirawat di rumah sakit pun, hanya sedikit yang kondisinya memburuk sampai membutuhkan perawatan intensif atau akhirnya meninggal. Tingkat kematian ditaksir ~5%.

Namun tingkat kematian yang seolah kecil ini harus dilihat bersamaan dengan karakteristik virus ini yang sangat mudah menular, bahkan sebelum seseorang yang sudah terinfeksi merasakan gejala apa pun. Dan jumlah orang yang terinfeksi ini hampir pasti jauh lebih besar daripada angka statistik yang diberitakan. Karena daya tularnya yang tinggi sekali, tingkat kematian yang kecil pun berarti banyak keluarga kehilangan nenek, kakek, ayah, ibu dan saudaranya.

Di Amerika Serikat, misalnya, pada akhir April jumlah kasus sudah mencapai 869.170 dan korban meninggal 49.954, sehingga tingkat kematiannya 5.7%. Di Tiongkok, angka padanannya adalah 83.884, 4.636 dan 5,5% (Johns Hopkins, 23 April). Amerika Serikat adalah contoh kasus wabah yang sedang di puncak dan Tiongkok yang sudah menuruni lereng kurva wabah.

Tingkat kematian adalah salah satu indikator penting. Namun kita juga perlu mendalami karakteristik dan pola korban agar lebih memahami virus ini sehingga dapat menginformasikan kebijakan pemerintah dan mempersiapkan masyarakat. Mengingat penyebaran wabah dapat terjadi dalam beberapa gelombang, kami ingin menyampaikan temuan kami tentang pola yang ditemukan di Indonesia sejauh ini..

Tiga pola kematian utama akibat  COVID-19

Dari 80,000 kematian yang kami olah dari Eropa, Tiongkok dan Korea Selatan, ada tiga pola utama yang menonjol. Pertama, lebih banyak laki-laki daripada perempuan yang menjadi korban; kedua, kelompok umur lanjut usia lebih tinggi risiko kematiannya; terakhir, pasien dengan penyakit penyerta (komorbiditas) diabetes, darah tinggi dan jantung juga lebih tinggi tingkat kematiannya. Dalam berbagai kesempatan kami menyebut ketiga penyakit ini sebagai penyakit trisula yang mengancam pasien COVID-19.

Pola 1: laki-laki lebih rentan 

Dari tabel yang tersedia di Global Health 50/50 per tanggal 23 April 2020 tentang bagaimana COVID-19 mempengaruhi pasien perempuan versus laki-laki, ada pola yang konsisten: pasien laki-laki menunjukkan tingkat kematian lebih tinggi. Dari 29 negara yang menyediakan datanya,  27 negara melaporkan rasio korban meninggal laki-laki lebih tinggi. Indonesia belum mengumumkan pembagian data kasus berdasarkan jenis kelamin.

Pola 2: Orang lanjut usia lebih rentan 

Gambar 1 menunjukkan tingkat kematian berdasarkan kelompok umur dari Tiongkok yang menunjukkan tingkat kematian yang lebih tinggi seiring usia, dengan lonjakan tinggi mulai dari kelompok usia di atas 60.

Gambar 1: Tingkat kematian berdasarkan kelompok umur di Tiongkok. Sumber: China CDC 14 Feb 2020.

Kedua pola ini bila digabungkan akan seperti data dari Italia pada gambar berikut: laki-laki lebih rentan daripada perempuan, baik secara umum maupun di setiap kelompok umur.

Gambar 2: tingkat kematian di Italia berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur. Sumber: Istituto Superiore di Sanità, Roma dan https://lab.gedidigital.it/gedi-visual/2020/coronavirus-i-contagi-in-italia/ 27 Maret 2020.

Pola 3: Penyakit kronis penyerta sangat menentukan 

COVID-19 sangat mudah  memakan korban di antara pasien penyandang penyakit penyerta, terutama diabetes, darah tinggi dan jantung. Pola ini muncul di banyak negara sehingga kami menggabungkan ketiganya dan menyebutnya (kelompok) penyakit trisula. Misalnya di Tiongkok dan Italia (gambar 3 a dan b).

Gambar 3 (a & b). COVID-19 lebih mematikan di antara penyandang penyakit trisula. Di Tiongkok tingkat kematian penyandang penyakit trisula sedikitnya dua kali tingkat rata-rata. Sumber: China CDC 14 February 2020, https://lab.gedidigital.it/gedi-visual/2020/coronavirus-i-contagi-in-italia/

Kedua pola kematian di atas ternyata saling menguatkan, seperti kami temukan di Spanyol. Bukan hanya penyandang penyakit kronis lebih tinggi kemungkinannya meninggal karena COVID-19, di antara para penyandang ini pun, laki-laki lebih rentan (Gambar 4).

Gambar 4. Tingkat kematian (%) di Spanyol per jenis penyakit kronis dan jenis kelamin.

Bagaimana dengan Indonesia? Risiko tinggi di usia produktif

Namun terdapat tren menarik di Indonesia: Korban COVID-19 di Indonesia lebih muda, dan lebih tinggi di kelompok usia produktif dibanding di negara lain. Mengapa demikian?

Penelitian kami pada 2014 menunjukkan bahwa dua-per-tiga penduduk Indonesia berusia di atas 40 memiliki risiko meninggal akibat penyakit jantung  (Maharani & Tampubolon 2014, PLoS One), suatu kondisi yang kemungkinan tidak disadari oleh penderita. Hal ini juga didukung data BPJS yang di thaun 2019 membayar Rp 11,5 triliun klaim perawatan jantung dan stroke.

Melihat tingginya tingkat kematian akibat penyakit penyerta di negara lain, dipadukan dengan temuan tentang tingginya prevalensi penyakit jantung di kalangan usia produktif, kedua hal ini konsisten untuk menjelaskan tren tingginya kematian akibat COVID-19 di kelompok usia produktif di Indonesia.

Karena di Indonesia tingkat kematian justru lebih tinggi di antara kelompok usia produktif (40+), wabah ini berpotensi memperparah dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh krisis kesehatan ini dalam jangka panjang, karena kelompok usia produktif adalah motor ekonomi keluarga dan motor produktifitas negara.

Pola berdasarkan jenis kelamin dan umur

Berdasarkan data yang ada sejauh ini, tampak jelas bahwa laki-laki memiliki risiko meninggal akibat COVID-19 yang jauh lebih tinggi daripada perempuan. Di Jawa Timur, misalnya, rasio korban laki-laki : perempuan adalah 3:1 (Jakarta Post dan CNN Indonesia, 13 April). Di Jawa Barat dan DKI Jakarta rasionya lebih dari 2:1. Temuan ini konsisten dengan angka dari sebagian besar negara yang kami tampilkan di Tabel 1.

Menggunakan data dari DKI Jakarta hingga 31 Maret (N=667, meninggal 77 atau 12%) yang diolah dengan model probit, kami juga menaksir peluang meninggal di antara kelompok Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Dengan model seperti ini kami memperhitungkan bahwa, misalnya, lebih banyak laki-laki yang menyandang penyakit jantung daripada perempuan. Satu catatan: data yang digunakan di sini masih sangat dinamis dan akan berubah seiring laju perkembangan wabah. Selain itu, informasinya pun belum lengkap. Misalnya, jenis kelamin sebagian pasien tidak dicatat sehingga pasien tersebut harus disisihkan dari perhitungan. Hasilnya kami ringkas dalam dua grafik baru.

Pertama terlihat perbedaan yang sangat nyata antara laki-laki dan perempuan dalam peluang meninggal akibat COVID-19 (Gambar 5). Lihat, misalnya, kelompok usia kurang dari 30 tahun: perempuan berpeluang meninggal 5% sedangkan laki-laki 9%. Atau, kelompok lanjut usia: perempuan berpeluang meninggal 13% sedangkan laki-laki 21%.

Sumber: diolah dari data DKI Jakarta (30 Maret)

Gambar 5: Peluang meninggal akibat COVID-19 untuk perempuan dan laki-laki berdasarkan umur. 

Yang juga terlihat adalah bahwa mortalitas di kelompok usia muda pun ternyata tidak kecil. Temuan ini menunjukkan satu atau dua dari 20 orang berusia muda berpeluang meninggal jika terjangkit COVID-19.

Tidak nampak perbedaan nyata antara 30an dengan 40an, tidak seperti praduga kami di atas. Baru ketika menapak 50-an terlihat adanya lonjakan (tambahan 7%), di mana satu dari sepuluh pasien COVID-19 berusia 50-an berpeluang meninggal.

Pola penyakit trisula

Selain pola jenis kelamin dan umur kami juga ingin menekankan pola penyakit trisula. Mengingat temuan kami (2014 dan 2019) bahwa dua-per-tiga dari penyandang penyakit trisula tidak sadar akan penyakitnya dan tidak mengendalikan risikonya, kami menganjurkan kepada mereka agar lebih berhati-hati. 

Gambar 6: Peluang meninggal akibat COVID-19 untuk perempuan dan laki-laki berdasarkan penyakit penyerta. Sumber: diolah dari data DKI Jakarta.

Pola penyakit trisula ini adalah pola terpenting. Mortalitas pasien tanpa penyakit penyerta adalah satu dari sepuluh. Namun bila seseorang sudah menyandang diabetes, darah tinggi, atau penyakit jantung, maka peluang meninggalnya naik lima kali lipat.

Apa artinya temuan baru ini buat Indonesia?

Mengingat bahwa di Indonesia wabah ini memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk menyerang penduduk di usia produktif, yakni penggerak ekonomi keluarga dan negara, semakin penting agar pemerintah bertindak tegas untuk memutus rantai penularan, terutama mengingat dampak ekonomi yang ditimbulkan.

Kemudian, pola penyakit menular ini juga menuntut tindakan khusus. Pertama, pemantau orang atau pasien dalam pengawasan sebaiknya menanyakan minimal penyakit trisula ini. Lalu pastikan bahwa mereka mendapatkan obat sesuai pedoman (misalnya, Captopril bukan 15 melainkan 30 hari). Selain itu, temuan lapangan kami tahun lalu menunjukkan bahwa penduduk desa yang berpenyakit jantung masih belum teratur mendapatkan obat yang menjadi haknya. Jika mereka tertular SARS-Cov-2, kans hidup mereka akan 50:50. Maka penting untuk memberi perhatian khusus kepada segmen populasi perdesaan ini.

Terakhir, dalam berbagai kesempatan kami sebutkan pemerintah perlu menegakkan pembatasan atau jaga jarak sosial serentak dan menyediakan pengaman sosial kepada yang terdampak, terutama kepada pekerja informal. Semua pekerja di usia produktif adalah motor ekonomi, baik formal maupun informal, dan semuanya rentan terkena COVID-19. Semuanya berhak mendapat perlindungan nyata dari pemerintah. Langkah mitigasi yang dirancang mesti dibangun dengan memperhitungkan tiga pola dan temuan yang sudah kami urai di atas.

Referensi

Maharani & Tampubolon 2014. Unmet needs for cardiovascular care in Indonesia. PLoS One. DOI: https://doi.org/10.1371/journal.pone.0105831 

Maharani, Sujarwoto, Praveen, Oceandy, Tampubolon, Patel 2019. Cardiovascular risk scores in Indonesia. PLoS One. DOI: https://doi.org/10.1371/journal.pone.0215219

Patel, Praveen, Maharani, Oceandy, Pilard, Kohli, Sujarwoto, Tampubolon 2019. Association of multifaceted mobile technology-enabled primary care intervention with cardiovascular disease risk management in rural Indonesia. Journal of American Management Association Cardiology. DOI: https://doi.org/10.1001/jamacardio.2019.2974

Terima kasih kepada mas Dono Widiatmoko dan mas Ruly Achdiat.