Lanjut ke konten

Seri Pengawal Pagebluk: Pasien Mendadak Kritis atau Meninggal, Testing Lemah, dan Warga Abai

Jumlah kasus positif rendah bukan berarti sebuah daerah aman dari COVID-19. Seorang dokter di Provinsi Lampung melaporkan beberapa pasien yang ternyata positif COVID-19, mendadak kritis, atau bahkan meninggal dalam waktu singkat ketika sudah berada di RS rujukan COVID-19. Minimnya testing membuat warga tidak was-was dan akhirnya abai.

Kawal COVID-19's Avatar
Kawal COVID-19Tim administrator situs KawalCOVID19.id

Penulis: Seorang dokter umum di Provinsi Lampung

Saya adalah seorang dokter umum yang bertugas di sebuah rumah sakit di Provinsi Lampung. Rumah sakit tempat saya bekerja bukan RS rujukan COVID-19. Hanya saja, belakangan ini, kami sering menerima pasien dengan keluhan yang mengarah pada COVID-19 dan setelah pemeriksaan PCR, hasilnya ternyata positif. Jika sudah begini, pasien akan dirujuk ke RS rujukan COVID-19. Rata-rata pasien seperti ini menunjukkan gejala beragam, mulai dari yang ringan, seperti demam, sampai yang paling berat, seperti penurunan saturasi oksigen secara drastis dengan atau tanpa keluhan sesak napas. Bahkan, beberapa pasien meninggal sesampainya di RS rujukan dalam waktu perburukan yang sangat singkat. 

Sebelum pandemi datang, situasi di RS kami cukup kondusif. Pasien yang meninggal atau mengalami perburukan di ruang rawat inap pun terbilang sedikit. Kalaupun ada yang meninggal, penyebabnya biasanya sakit berat atau penyakit terminal. Namun, memang sudah beberapa bulan ini, saya dan rekan-rekan dokter mengamati seringnya pasien datang dalam kondisi sudah meninggal di perjalanan menuju RS kami atau dengan perburukan sesampainya di sini. Fenomena ini terjadi setidaknya setiap minggu. Ketika kami bertanya pada keluarga pasien tentang riwayat keluhan pasien, beberapa melaporkan keluhan sesak napas sebelum meninggal dunia. 

Yang makin mengiris hati kami para nakes adalah jika ada seorang pasien dengan klinis dan pemeriksaan penunjang curiga COVID-19 atau hasil rapid test reaktif tapi pasien itu atau keluarganya menyangkal kemungkinan terjangkit COVID-19. Tidak jarang mereka marah, tidak menerima kenyataan, ataupun menolak pemeriksaan PCR. Menghadapi kasus seperti ini, kami harus lebih waspada dan meningkatkan rasa kehati-hatian dalam bekerja dengan selalu menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai standar, meski APD yang sesuai standar masih sulit kami dapatkan.

Kasus pasien yang meninggal begitu saja dalam perjalanan atau saat tiba di RS kami mengkhawatirkan karena kami tidak bisa mengetahui dengan pasti apakah pasien sempat terinfeksi koronavirus atau tidak sebelum meninggal dunia. Kebingungan ini ditambah dengan minimnya pemeriksaan RT-PCR (swab test) untuk warga Lampung. Sejauh ini, pemeriksaan PCR diprioritaskan untuk pasien yang dirawat dengan klinis dan pemeriksaan penunjang yang mengarah ke COVID-19. Jika hasil swab test pasien terkonfirmasi positif, kontak erat pasien akan dilacak, terutama keluarga. Kemudian keluarga yang berkontak erat bisa di-swab

Sayangnya, nakes yang berkontak dengan pasien selama masa perawatan jarang di-swab, kecuali nakes tersebut menunjukkan gejala yang mengarah ke COVID-19 atau hasil rapid test-nya reaktif. Menurut Panduan Protokol COVID-19 Kemenkes Revisi ke-5 dan WHO, rapid test sesungguhnya tidak bisa dijadikan acuan diagnostik tapi masih sering digunakan di sini. 

Minimnya testing PCR tercermin dari angka kasus positif COVID-19 yang jauh di bawah provinsi lain, terutama Jakarta dan Palembang yang secara geografis bersebelahan dengan provinsi Lampung. Efek psikologis dari jumlah kasus yang kecil terasa di lapangan karena masyarakat jadi menganggap bahwa Lampung itu cenderung aman dari COVID-19 dan menjadi abai. Kafe dan tempat wisata ramai, dan pengunjung tidak berjarak. Banyak kasir dan pelayan yang memakai masker yang hanya di dagu atau tidak pakai sama sekali. Di akhir pekan, warga juga ramai sekali bersepeda, tentunya tidak atau jarang pakai masker dengan benar. Bagaimana rakyat mau takut dan percaya bahwa COVID-19 itu nyata jika jumlah kasus positifnya masih sedikit dan sangat tertinggal dari provinsi lain?

Gambar 1. Lampung peringkat tiga terbawah dalam pemeriksaan PCR per 1 juta penduduk mingguan

Di awal-awal pagebluk, sebetulnya warga masih patuh. Namun, semenjak istilah “new normal” digaungkan, rasanya semua orang sudah abai. Kami para nakes hanya bisa geleng-geleng dan berharap mereka tahu perjuangan kami dan para pasien yang telah terpapar hingga kondisinya kritis atau bahkan meninggal dunia. Kami juga berharap pemerintah setempat bisa lebih masif menjalankan swab test, lacak, dan isolasi serta memprioritaskan pemeriksaan PCR bagi tenaga kesehatan. Pemerintah adalah teladan bagi warganya. Jika pemerintah tidak serius, jangan harap rakyat akan menganggap COVID-19 ini bencana yang sungguh-sungguh ada.