Lanjut ke konten

Seri Penyintas COVID-19: Dua Kali Terpapar dengan Gejala yang Berbeda

Bulan Maret 2020, penulis terpapar COVID-19 dengan gejala kritis. Di awal Juli 2020, penulis kembali terkena COVID-19 tapi tanpa gejala, beserta dengan istri dan anaknya. Cerita ini adalah contoh bagaimana seseorang bisa terkena COVID-19 lebih dari sekali (reinfeksi).

Kawal COVID-19's Avatar
Kawal COVID-19Tim administrator situs KawalCOVID19.id

Penulis: JK (penyintas COVID-19 di Tangerang)

Bagi keluarga saya, COVID-19 bukan hal asing karena kami mengalaminya dua kali. Saat pandemi mulai merebak, awalnya hanya saya sendiri yang terpapar, tapi beberapa bulan kemudian, saya terpapar lagi, bersama dengan istri dan kedua anak saya.

Saya dan COVID-19

Sekitar tanggal 14-27 Maret 2020, saya mengalami demam dengan suhu antara 37,5-39,2 oC, serta batuk-batuk kering. Tenggorokan saya pun terasa kering selama periode tersebut. Dua hari setelah mengalami gejala (16 Maret), saya memeriksakan diri ke RS Omni Alam Sutra dan, berdasarkan hasil lab darah, didiagnosis DBD. Dokter menyarankan saya untuk melakukan isolasi mandiri di rumah.

Sepanjang minggu itu, badan saya terasa sakit dan lemas, dengan temperatur naik-turun. Seminggu berikutnya, saya kembali memeriksakan diri ke rumah sakit yang sama. Hasil lab menunjukkan DBD sudah negatif. Akan tetapi, badan saya masih terasa belum fit. Demam pun belum berakhir. Untuk memastikan saja, saya memeriksakan paru-paru dan hasilnya bersih. Mengikuti saran dokter, saya kembali melakukan isolasi mandiri di rumah. 

Tiga hari berikutnya, saya mulai mengalami sesak napas. Namun, saya masih meyakinkan diri bahwa saya tidak terkena COVID-19. Kembali saya memeriksakan paru-paru dengan CT-scan. Pada tanggal 27 Maret itu lah saya memperoleh hasil yang menunjukkan bahwa paru-paru saya sudah penuh dengan warna putih, sebuah indikasi kuat bahwa saya terpapar COVID-19. Mengingat RS Omni Alam Sutra belum dapat melakukan tes swab, saya lalu ke rumah sakit rujukan. 

Istri saya yang baru sebulan bisa menyetir langsung mengantar saya ke RS Darurat Wisma Atlet. Akan tetapi, karena RS ini dikhususkan hanya untuk pasien tanpa gejala atau dengan gejala ringan, pihak RS menolak untuk merawat saya karena saya kekurangan oksigen dengan saturasi di bawah 80. Sore itu, istri saya pun melarikan saya ke RS Sulianti Saroso. Namun, lagi-lagi saya ditolak karena IGD sudah penuh dan masih ada dua pasien lain yang belum tertangani. 

Saat itu, kami berdua sudah pasrah dan hanya dapat berdoa agar Tuhan mengarahkan kami ke RS yang bisa membantu. Di tengah kebingungan, kakak saya yang seorang dokter menginformasikan bahwa masih ada tempat tersedia di  RS Bogor Senior. Tanpa berpikir panjang, kami pergi ke sana. Saking pasrahnya, di perjalanan saya sempat berpesan kepada istri, “Titip anak kita jika aku kenapa-kenapa, ya.”

Tepat pukul 20.30, kami tiba di RS Bogor Senior dengan kondisi saya yang sudah sangat kritis dan saturasi di angka 75. Napas saya pun sudah tersengal-sengal. Setibanya di RS, saya langsung ditangani di IGD. Saya langsung merasa lebih tenang karena sudah mendapatkan perawatan.

Selama tiga hari pertama di RS, kondisi saya kritis. Pada hari kedua, pihak RS menghubungi keluarga dan menyatakan bahwa saya harus masuk ICU karena saturasi tetap di angka 75. Sayang sekali ICU RS tersebut penuh sehingga saya masih harus menunggu. Keluarga saya hanya bisa berharap mukjizat Tuhan, yang terjadi dua jam kemudian, ketika saturasi saya naik ke angka 79. Meski demikian, saya masih belum sadar. Bahkan pada hari ke-11, menurut keterangan perawat, badan saya sudah biru dan dingin.

Setelah 26 hari dirawat di RS dengan hasil dua kali tes swab negatif, saya diperbolehkan pulang. Rasanya lega sekali karena sepanjang perawatan, aktivitas saya sangat terbatas. Saya tidak boleh keluar dari kamar sehingga hanya dapat mondar-mandir di dalam. Kegiatan saya hanya menonton TV, main HP, dan main game. Saya juga tidak bisa menghadiri perayaan ulang tahun anak saya. Tetapi semua itu tidak mengurangi rasa syukur karena saya masih diberikan umur.

Sepulang dari RS, saya masih harus memulihkan sistem pernapasan dengan berlatih menahan napas selama enam detik sebanyak enam kali dan diakhiri dengan batuk sekencang-kencangnya agar dahak keluar. Berangsur-angsur keluhan pun saya berkurang. Kemudian, usai isolasi mandiri selama 14 hari di rumah, saya kembali aktif bekerja tanpa keluhan lebih lanjut.

Keluarga saya dan COVID-19

Pada awal Juli, istri saya merasakan tenggorokan kering dan mengalami batuk-batuk sedikit. Keesokan harinya ia mengalami demam sampai 38,9 oC. Karena pernah mengalami COVID-19, saya was-was kalau istri saya terpapar. Namun, saya berusaha berpikir positif dan memberikan perawatan rumahan padanya, seperti perasan lemon dan madu tiga kali sehari dan vitamin C, D, dan E setiap hari. Akan tetapi, semua upaya tersebut tidak berarti. Tiga hari kemudian, istri saya mengeluh tidak bisa mencium aroma minyak kayu putih sama sekali. 

Naasnya, semua RS di Tangerang dan Jakarta yang saya hubungi penuh. Untunglah RS Bogor Senior, yang dulu merawat saya, masih bisa menyediakan tempat. Saya langsung membawa istri ke Bogor agar dapat menjalani tes swab dan perawatan. Tiga hari kemudian, hasilnya keluar dan menunjukkan bahwa istri saya positif terkena COVID-19. Mengetahui hal ini, saya dan anak saya melakukan tes swab juga di RS Grha Kedoya. Hasilnya? Saya dinyatakan positif dengan CT 36. Demikian juga dengan anak saya dengan CT 18. Semakin trenyuh perasaan saya ketika mendengar dari kakak saya bahwa CT di atas 30 artinya non infectious, sedangkan CT di bawah 30 artinya sangat infectious. Saya sungguh mencemaskan anak saya yang di usianya belum dapat menyampaikan apa yang dia rasakan.

Puji Tuhan, anak kami dan saya sendiri tidak mengalami gejala apapun sehingga kami hanya perlu melakukan isolasi mandiri di rumah. Setiap hari, saya memantau saturasi si kecil dengan alat yang kami siapkan di rumah hingga akhirnya, angka saturasi mencapai 98. Sementara itu, istri saya menjalani perawatan di Bogor selama tujuh hari dan diperbolehkan pulang karena tidak ada gejala kritis dan kondisinya baik. Setelah itu, kami bertiga melakukan isolasi mandiri selama 14 hari hingga dinyatakan bebas COVID-19 pada awal Agustus. 

Saya sama sekali tidak membenci Tuhan dengan apa yang telah kami sekeluarga alami. Justru, kami sekeluarga sangat berterima kasih atas hikmah ini. Saat ini, kami sudah tidak mengalami gejala sama sekali. Namun kami tetap waspada dan tetap teguh melaksanakan protokol kesehatan dalam keseharian kami.