Lanjut ke konten

Seri Penyintas COVID-19: Klaster Keluarga Yang Masih Berjuang Untuk Pulih

Saya ingin membagi pengalaman kami sekeluarga untuk menjadi penyemangat teman-teman yang orang tua dan keluarganya terkena COVID-19. Kisah oleh @anindya_hafsa

Kawal COVID-19's Avatar
Kawal COVID-19Tim administrator situs KawalCOVID19.id

Pada tanggal 15 Januari 2021, papa saya (75 tahun) melakukan tes PCR setelah lima hari sebelumnya kontak erat dengan tetangga kami yang kemudian positif COVID-19. Selama menanti hasil tes, papa langsung melakukan isolasi mandiri. 

Ternyata pada tanggal 18 Januari kami mendapatkan hasil tes papa positif. Untuk itu segera kami sekeluarga menjadwalkan tes PCR. Hasilnya, dua anak saya yang berumur 4,5 dan 1,5 tahun, positif. Sedangkan Mama saya, suami, dan saya, negatif. 

Pembagian tugas di rumah pun berlangsung, saya mendampingi dua anak yang positif sedangkan suami akan keluar rumah bila ada keperluan penting. Mama juga mengisolasi diri, terpisah dari papa. Walau hasil tes PCR mama negatif, tapi karena berusia sudah cukup lanjut, mama menghentikan berinteraksi langsung dengan anak, menantu dan cucu-cucunya.

Perasaan saya sungguh campur aduk saat itu. 

Dengan mengenakan masker medis dua lapis selama 24 jam sehari, saya merawat anak-anak yang alhamdulillah tidak bergejala sama sekali. Kami menyiapkan termometer, oximeter (untuk mengukur saturasi oksigen dalam darah), dan mengkonsumsi vitamin sesuai dosis yang dianjurkan dokter.

Namun, setelah lima hari merawat mereka, saya mulai kehilangan indera penciuman sehingga saya pun mengisolasi diri bersama mereka. Untungnya, anosmia tersebut hilang dalam tiga hari. 

Kondisi Papa memburuk

Papa terus menjalankan isolasi mandiri hingga 24 Januari 2021. Tetapi kondisi papa memburuk hingga saturasi oksigen mencapai angka 50. Papa sudah nggak bisa ngapa-ngapain. 

(Catatan KawalCOVID19: angka saturasi normal di atas 95%. Jika di bawah 90%, pasien harus segera dibawa ke RS untuk mendapatkan oksigen.) 

Saat itu sungguh sulit mendapatkan tempat di IGD, apalagi ranjang ICU. Alhamdulillah, karena pertolongan Allah, ketika menunggu di IGD salah satu RS di Jakarta Utara, kami mendapat kabar bahwa satu tempat tidur ICU tersedia untuk papa sehingga papa bisa langsung memulai perawatan dan menggunakan ventilator.

Kami sudah pasrah saat itu. Tetapi Papa ternyata bersemangat sekali untuk sembuh. Kami mengajaknya video call dua kali sehari. Perubahan selalu dilaporkan tiap saat, mulai dari hanya bisa berkedip, mengangkat jari, sampai di hari keenam dokter mengatakan bisa melepas ventilator dan Papa masuk ruang rawat COVID biasa. Setelah hasil PCR negatif, Papa boleh pulang untuk meneruskan pemulihan di rumah. 

Sembuh tapi masih berjuang untuk pulih

Proses pemulihan ternyata penuh tantangan. Sampai hari ini, papa masih perlu asupan dua hingga empat tabung oksigen yang harus kami isi ulang setiap 24 jam. Kami terus menyemangati papa untuk tetap makan, berjemur, stretching, latihan pernapasan, hingga perlahan-lahan nafsu makannya membaik. Saturasi oksigen saat ini berkisar 92-95%.

Hari ini, 12 Februari, kami sekeluarga sudah selesai menjalani masa isolasi mandiri. Papa masih terus dalam proses pemulihan walau hasil PCR sudah negatif. 

Kami sekeluarga bisa mengatasi ini bersama dengan selalu berkonsultasi ke dokter, tidak takut dites,menjalani isolasi dengan benar, dan tidak terlambat ke Rumah Sakit bila kondisi memburuk. 

Pesan saya, jaga semangat, jaga kesehatan, dan jaga jarak, terutama dari orang-orang yang tidak menggunakan masker dengan benar.