Lanjut ke konten

Satgas Kesehatan di Sekolah, Untuk Apa?

Per 24 Februari 2021, sudah ada wacana membuka kembali sekolah setelah vaksinasi guru rampung di bulan Juni. Di medio 2021, belum tentu pandemi sudah terkendali, apalagi berakhir. Karenanya, selain harus bersiap untuk mencegah penularan, sekolah juga harus bersiap diri untuk menangani adanya penularan di sekolah, sehingga tidak bingung dan menangani dengan serabutan ketika ada kasus. […]

Kawal COVID-19's Avatar
Kawal COVID-19Tim administrator situs KawalCOVID19.id

Per 24 Februari 2021, sudah ada wacana membuka kembali sekolah setelah vaksinasi guru rampung di bulan Juni. Di medio 2021, belum tentu pandemi sudah terkendali, apalagi berakhir. Karenanya, selain harus bersiap untuk mencegah penularan, sekolah juga harus bersiap diri untuk menangani adanya penularan di sekolah, sehingga tidak bingung dan menangani dengan serabutan ketika ada kasus.

Salah satu persiapan yang tidak boleh diabaikan adalah pembentukan Satgas COVID, atau Satgas kesehatan, di tingkat sekolah.

Tugas Satgas sekolah adalah merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pelaksanaan protokol kesehatan di sekolah, termasuk:

Karena tugas-tugas ini banyak bersinggungan dengan isu kesehatan dan komunikasi, perlu orang berlatar belakang medis atau kesehatan di dalamnya. Selain itu, Satgas harus bersifat independen dan terdiri dari perwakilan administrator/pemilik sekolah, guru, orang tua dan murid SMP/SMA (diwakili oleh OSIS). 

Setelah terbentuk, beberapa hal terpenting yang perlu dilakukan Satgas sekolah adalah:

  1. Perbarui daftar kondisi kesehatan tiap orang

Unit Kesehatan Sekolah (UKS) harus memiliki daftar kondisi kesehatan anak dan staf yang diperbarui tiap tahun. Informasi yang perlu ada:

  • Komorbiditas apa yang dimiliki, misalnya: darah tinggi, diabetes, alergi berat, asma, penyakit autoimun
  • Daftar vaksinasi yang telah didapat tiap orang
  • Daftar orang yang tinggal serumah dengan tiap anak didik dan guru, bukan hanya berdasarkan kartu keluarga (misalnya: bila ada anak kos, asisten rumah tangga, mertua, semuanya harus ditulis)

Mengapa semua informasi ini diperlukan? Pertama, ini memudahkan sekolah dan Satgas sekolah untuk melihat siapa saja yang perlu mendapat perhatian lebih karena memiliki kondisi kesehatan khusus atau vaksinasinya belum lengkap. 

Kedua, bila sampai terjadi penularan di sekolah, Satgas dan Puskesmas/Dinkes akan mudah melacak kontak erat dari yang positif berdasarkan data siapa saja orang yang tinggal serumah.

  1. Susun pohon komunikasi untuk kondisi darurat

Baik via telepon atau aplikasi pesan pendek seperti WhatsApp, sekolah perlu pohon komunikasi dimana 1 orang bertanggung jawab untuk menghubungi 2-10 orang lain untuk menyampaikan kondisi darurat, misalnya:

  • Ada banyak pelanggaran protokol sehingga aturan dan sanksinya harus dijelaskan ulang
  • Kelas/sekolah ditutup karena beberapa orang terinfeksi
  • Protokol direvisi karena ada pelonggaran/pengetatan

Mengapa pohon komunikasi ini diperlukan? Dengan sistem ini, semua guru dan orang tua berpartisipasi dalam mencerna dan mengkomunikasikan kebijakan sekolah di masa pandemi. Mencegah penularan di sekolah serta memastikan tingkat kepatuhan yang tinggi menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya tanggung jawab guru.

  1. Monitor pelaksanaan protokol

Infrastruktur yang telah disiapkan dan dikomunikasikan tidak ada artinya bila tidak ada pengawasan atas pelaksanaannya. Satgas COVID sekolah bertugas untuk menjadi partner sekolah dalam perekrutan relawan, pembagian tugas, dan pengawasan pelaksanaannya. Titik-titik yang perlu diawasi pelaksanaannya karena bukan merupakan wilayah yang biasanya diawasi guru:

  • Gerbang sekolah
  • Koridor dan tangga
  • Kantin
  1. Revisi protokol bila diperlukan

Ketika protokol diuji coba atau dilaksanakan di hari-hari pertama, akan terlihat hal-hal yang masih perlu diperbaiki atau disempurnakan. 

  1. Berkoordinasi dengan Puskesmas dan Satgas COVID wilayah terdekat

Selama pandemi belum berakhir, pengetatan dan pelonggaran aturan di tingkat kota/kabupaten akan terus ada sesuai dengan turun/naiknya kasus. Karenanya penting bagi sekolah untuk terus berkoordinasi dengan Puskesmas, Dinkes dan Satgas COVID di sehingga kebijakan di sekolah sejalan dengan perkembangan pandemi terkini dan tingkat kepatuhan masyarakat.

Guru memiliki banyak tanggung jawab, sekaligus harus beradaptasi dengan cara mengajar dan berperilaku yang baru sejalan dengan dilakukannya Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas. Karenanya orang tua dan masyarakat perlu berperan aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan perbaikan protokol di sekolah melalui Satgas COVID sekolah. Karena pelaksanaan 3M oleh mayoritas anggota komunitas sangat efektif untuk mencegah penularan. 

Artikel terkait:

Seri COVID-19, artikel 3 dari 4:

Interaksi Guru-Murid Yang Minim Risiko

Embed code:

<iframe width=”560″ height=”315″ src=”https://www.youtube.com/embed/kO9psPOBjNU” frameborder=”0″ allow=”accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture” allowfullscreen></iframe>

Per 24 Februari 2021, sudah ada wacana bahwa pemerintah akan membuka sekolah setelah vaksinasi guru rampung di bulan Juni. Di medio 2021, belum tentu pandemi terkendali, apalagi berakhir. Karenanya, penting bagi pendidik untuk melengkapi diri dengan cara aman melakukan berinteraksi dengan anak didik. 

COVID-19 menyebar lewat droplet seperti air liur dan ingus, dua hal yang mudah tersebar di sekolah karena anak didik dan guru berinteraksi sepanjang hari dalam ruang tertutup. 

Karenanya artikel ini memberi tips bagaimana mengurangi risiko penularan di berbagai kegiatan sekolah:

Sebelum sekolah dibuka

Di dalam kelas

  • Anak-anak duduk di tempat yang sama setiap harinya dengan tidak berkelompok. Bagan tempat duduk murid (siapa duduk di mana) diserahkan ke sekolah. Ini penting supaya bila ada anak yang sakit, bisa ditelusuri siapa saja anak-anak yang duduk di dekatnya yang perlu ikut dikarantina. 
  • Bangku dan meja kelas sudah diatur sehingga tiap anak duduk sendiri dengan jarak 2 meter dengan kanan / kiri / depan belakangnya
  • Di awal tiap jam pelajaran, ingatkan anak didik untuk tidak saling meminjam buku dan alat tulis, dan agar mereka membenarkan posisi masker yang mungkin sudah melorot atau naik ke atas dagu
  • Bila anak didik perlu bekerja kelompok, mereka dikelompokkan dengan anak-anak yang sama di tiap mata pelajaran dan tetap asling menjaga jarak. Dengan demikian, jumlah orang yang menjadi kontak erat anak tersebut tetap terkontrol.
  • Tiap kelas perlu menyimpan sejumlah masker cadangan. Bila ada anak didik yang maskernya kotor atau talinya lepas, bisa diberikan masker cadangan. Bila anak didik menolak memakai masker dengan benar, dapat dikeluarkan dari kelas dan dipulangkan untuk menjaga agar situasi kelas kondusif.

Olahraga

  • Hindari permainan berjarak dekat seperti petak jongkok, sepakbola, basket, dan sejenisnya. Ganti dengan olahraga yang berjarak seperti bulutangkis, lompat tali, lari, senam, engklek, tenis meja, atau bela diri tanpa tanding (foto: Dok. Penrem 163/Wira Satya)
  • Jam pelajaran olahraga bisa dikombinasikan dengan diskusi mengenai gizi / nutrisi, kesehatan mental serta keterampilan bertahan hidup (survival skills) seperti belajar P3K, tali-temali, belajar navigasi dengan membaca peta dan arah matahari.

Kesenian

  • Seni musik: hindari menyanyi bersama. Kalau harus menyanyi bisa bergantian sendiri-sendiri dengan menggunakan masker atau lebih baik lagi: rekam suara dari rumah dengan fitur video di gadget, atau voice note. Hindari menggunakan alat musik tiup karena ini mengharuskan anak didik melepas masker. Bisa diganti dengan belajar alat musik pukul atau gesek, misalnya buat alat musik dari ember bekas yang dipukul, botol aqua yang diisi beras, gelas yang diisi air dengan volume berbeda. Bisa juga membuat bass dengan kotak sepatu yang dipasangi karet gelang sebagai pengganti senar. 
  • Seni rupa: bisa tetap menggambar, mewarnai dan melukis asalkan tidak saling meminjamkan kuas atau pensil warna. Kegiatan prakarya atau kerajinan juga tetap bisa dilakukan asalkan sifatnya individu, bukan kelompok – karena akan menimbulkan saling meminjam.
  • Seni peran: tetap bisa membaca puisi atau melakukan role play / dramatisasi dengan tetap mengenakan masker 
  • Seni tari: bisa tetap melakukan koreografi dengan menjaga jarak dan tidak berpasangan, berdekatan, atau sambil menyanyi. 

Perpustakaan

  • Perpustakaan perlu mengatur kapasitas maksimum di dalam ruangan dengan melihat luas ruangan dibagi 4. Ini dengan prinsip bahwa jaga jarak yang aman memerlukan 2×2 meter atau 4 meter persegi per orang.

Bila perpustakaan memiliki ukuran 8×12 meter, jumlah orang yang bisa berada di ruangan = (12×8):4 = 24 orang

  • Berdasarkan hitungan di atas, bisa diatur kapan tiap kelas bisa berkunjung untuk meminjam buku. Bila ruang perpustakaan kecil, buat kebijakan agar hanya 1-2 orang per kelas yang mengambil buku dari perpustakaan sesuai pesanan dari teman-teman sekelasnya.
  • Buku yang dikembalikan harus disterilisasi atau setidaknya dijemur di matahari selama 1-2 hari sebelum dikembalikan ke rak.

Makan siang

Kantin adalah tempat dimana orang perlu membuka masker untuk makan. Karenanya, idealnya jam sekolah diatur supaya tidak ada makan siang. Namun bila tidak memungkinkan:

  • Wajib cuci tangan sebelum dan sesudah makan
  • Atur jam istirahat agar kelompok umur yang sama tidak istirahat bersama, karena murid cenderung berinteraksi dengan kelompok umur yang sama. Kelas 1 dan 6 SD kemungkinannya tidak saling kenal, tapi kelas 3A dan 3B ingin ngobrol dan main bersama.
  • Atur jarak duduk 2 meter. Bila tidak memungkinkan, pasang pembatas antar tempat duduk dari kayu/akrilik
  • Setelah selesai pakai, anak melap meja dengan lap yang disemprot disinfektan
  • Perlu ada pengawas di kantin untuk memastikan murid menjaga jarak, cuci tangan, dan tidak saling ngobrol tanpa masker

Memang banyak sekali hal yang harus diperhatikan, namun kenyataannya memang ada banyak interaksi jarak dekat di sekolah. Bila kita konsisten menjalankan 3M di sekolah: menjaga jarak, mengenakan masker dengan benar, dan mencuci tangan dengan sabun; risiko penularan di sekolah akan berkurang secara signifikan.

Untuk mendengar lebih banyak tips berinteraksi minim risiko dari guru yang sudah mengalami mengajar tatap muka satu semester tanpa adanya kasus penularan di sekolah, klik tautan ini

Artikel terkait: