Lanjut ke konten
Kawal COVID-19
Mode warna

Tips Siaga Bagi Pasangan yang Menunggu Kelahiran

Kawal COVID-19's Avatar
Kawal COVID-19Tim administrator situs KawalCOVID19.id

Disarikan oleh Debbie, Rita, dan Satrio (Tim Media Monitoring – KawalCovid19.id)

Lebih dari 200 juta wanita hamil di seluruh dunia berpotensi terinfeksi coronavirus. Beberapa penelitian mulai menguak bahaya virus SARS-CoV-2 ini pada wanita hamil dan bayinya, namun hasilnya terkadang masih kontradiktif dalam saran yang direkomendasikan. Misalnya apakah bayi baru lahir harus dipisahkan dari ibu yang positif COVID-19? Apakah ibu yang positif COVID-19 bisa memberi ASI pada bayinya? Tim KawalCovid19.id mengumpulkan dan merangkum laporan hasil riset terkini dari berbagai sumber terkait kehamilan, proses melahirkan, dan menyusui di tengah merebaknya wabah COVID-19 ini.  

Apakah ibu hamil berisiko lebih tinggi terinfeksi COVID-19?
Royal College of Obstetricians and Gynaecologist menyatakan bahwa wanita hamil tidak lebih rentan terinfeksi COVID-19. Namun, penting untuk diingat bahwa wanita hamil mengalami perubahan fisiologis dan sistem imunitas yang drastis dalam tubuh mereka. Hal ini dapat meningkatkan resiko wanita hamil terinfeksi dan terjangkit penyakit. 

Oleh sebab itu, sangat penting bagi ibu hamil untuk melakukan langkah-langkah pencegahan agar tidak tertular COVID-19, seperti  mencuci tangan secara teratur dan menyeluruh dengan air dan sabun, menghindari kontak dengan orang sakit, menghindari berjabat tangan atau memeluk ketika menyapa, menjaga jarak fisik dan tetap di rumah jika sakit.  

Archives of Pathology & Laboratory Medicine juga menerbitkan penelitian pada 17 Maret yang menyatakan bahwa saat ini belum ada bukti yang kuat bahwa SARS-CoV-2 dapat menginfeksi janin melalui ibunya yang positif terinfeksi COVID-19. WHO juga menjelaskan hingga saat ini tidak ditemukan virus dalam cairan ketuban dan ASI yang dihasilkan wanita yang positif COVID-19. Dari sekian banyak laporan kami baru menemukan satu kasus dugaan transmisi dari ibu hamil yang positif COVID-19 pada bayinya.

Proses melahirkan 
WHO menegaskan wanita hamil yang diduga positif COVID-19 tidak perlu melahirkan melalui operasi caesar kecuali ada alasan medis lain. Walaupun ada pengetatan akses dan usaha pembatasan penularan COVID-19, WHO menegaskan bahwa ibu dan bayinya tetap berhak mendapatkan perawatan medis sesuai standar yang berlaku sebelum, saat, dan setelah kelahiran; bahkan ketika sang ibu diduga atau terkonfirmasi mengidap COVID-19 pun. Termasuk di dalamnya perawatan saat kehamilan, baru-lahir, pasca-melahirkan, dalam proses kelahiran dan kesehatan mental. Tentunya tenaga medis yang menangani perlu melakukan langkah-langkah pencegahan penularan.

Penting bagi sang ibu untuk mendapatkan pengalaman melahirkan yang positif dan aman, yang mencakup: perlakuan yang penuh hormat dan bermartabat, kehadiran satu orang pilihan saat proses kelahiran, komunikasi yang jelas oleh staf kebidanan, strategi penghilang rasa sakit yang sesuai, posisi dan kebebasan bergerak saat melahirkan bila memungkinkan. Petugas medis harus mengenakan APD yang memadai untuk mencegah penularan. Prosedur pasca kelahiran yang disarankan pada saat sehat seperti kontak kulit dengan bayi, pemberian ASI, dan tidur bersama bayi perlu dibicarakan dan dilakukan dengan memperhatikan potensi penularan virus pada bayi., 

COVID-19 antar Bayi
Dari data statistik dilaporkan bahwa belum banyak bayi dan anak-anak yang terinfeksi COVID-19. Dari jumlah kasus positif COVID-19 di Cina, hanya 1 persen penderita yang merupakan anak-anak di bawah 10 tahun. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa anak-anak rentan terhadap infeksi SARS-CoV-2, tetapi seringkali tidak menunjukkan gejala, sehingga besar kemungkinan bahwa mereka menjadi pembawa penularan virus. Jika anak-anak mempunyai peran yang besar dalam menularkan virus dan menyebarkannya, maka kebijakan sosial dan kesehatan publik (misalnya menghindari interaksi dengan orang yang lebih tua) dapat diterapkan untuk memperlambat penularan dan melindungi populasi yang lebih rentan.  Peran anak-anak pada mata rantai penularan ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. 

Perawatan bayi
Apabila ibu positif COVID-19, semua kegiatan terkait perawatan bayi dan pemberian ASI harus memperhatikan potensi penularan ini. Untuk mengurangi resiko penularan  COVID-19 pada bayi yang baru lahir, CDC Amerika Serikat menyarankan ibu hamil yang positif COVID-19 agar tidur di tempat terpisah dari bayinya. Penggunaan masker saat menggendong dan menyusui bayi, tidak menyentuh wajah, mencuci tangan dengan sabun sebelum dan setelah menyentuh bayi, harus benar-benar dilaksanakan.

Demikian pula dengan pembersihan kamar dan desinfektan rutin barang-barang dan permukaan yang sering disentuh bersama di sekitar rumah (meja, tombol lampu, remote, permukaan di toilet dan wastafel, gagang pintu, mainan) perlu dilakukan secara rutin.

Pemberian ASI
Apakah saya boleh menyusui bayi saya bila saya terduga atau terkonfirmasi COVID-19?

UNICEF, Academy of Breastfeeding Medicine, WHO dan CDC melaporkan bahwa studi terbatas pada wanita menyusui yang positif COVID-19 dan terinfeksi virus Corona lainnya tidak berhasil mendeteksi virus tersebut pada ASI. Untuk menjaga kemungkinan penularan, ibu yang diduga atau positif COVID-19 harus melakukan tindakan mencegah penyebaran virus pada bayinya, termasuk mencuci tangan sebelum menyentuh bayi dan mengenakan masker ketika menyusui. 

Bila gejala-gejala yang dialami sang ibu semakin parah dan ada kecemasan menularkan virus pada bayi, pemisahan ibu dan bayi dapat dipertimbangkan.  Jika ibu tidak dalam kondisi sehat untuk menyusui karena terinfeksi COVID-19 (atau penyakit lainnya), alternatif lain yang dapat dipertimbangkan adalah memompa ASI, relaktasi atau mencari donor ASI. Saat memompa ASI dengan tangan atau listrik, ibu harus mencuci tangan sebelum menyentuh pompa atau bagian botol serta mengikuti anjuran cara membersihkan pompa yang benar setiap selesai pemakaian. Jika memungkinkan, sebaiknya minta anggota keluarga yang sehat untuk memberikan ASI yang sudah dipompa ke bayi.  Penyimpanan ASI dapat mengikuti panduan pemompaan dan penyimpanan yang biasa. Setelah ASI dipompa dengan bersih dan aman, simpan ASI dalam suhu ruang, di lemari pendingin, atau di freezer, tergantung pada kapan ASI diberikan pada bayi.

Pembersihan bagian pompa, tempat mencuci dan sikat botol dilakukan setidaknya sekali sehari. Kebanyakan virus akan mati pada suhu air mendidih, maka perlengkapan pompa ASI dan botol susu dengan cara merebus dengan air mendidih atau mesin pencuci piring yang diberi cairan pembersih. CDC juga menyarankan agar bagian pompa, sikat botol dan wadah dicuci bersihkan dan benar-benar dikeringkan seluruhnya sebelum disimpan agar tidak ada virus dan jamur. Setelah benar-benar kering, barang-barang tersebut harus disimpan di tempat yang bersih dan terlindung untuk mencegah kontaminasi.

Depresi pasca kelahiran
Meskipun arahan untuk menjaga jarak dalam upaya mengontrol penyebaran virus ini penting, isolasi dan kelelahan dapat memicu depresi pasca-kelahiran. Menjaga jarak dengan bayi sulit dilakukan oleh ibu yang baru melahirkan, oleh sebab itu suami dan keluarga harus memberi dukungan. Selain itu, masa adaptasi yang intens dengan berubahnya peran istri menjadi ibu dapat pula menimbulkan konflik dan mempengaruhi adaptasi ibu dengan bayinya. Pada saat inilah suami harus mengambil peran lebih besar dalam mengurus bayi dan memastikan kesehatan mental istrinya. Hal ini makin penting apabila sang istri terduga atau terkonfirmasi positif COVID-19. 

Tautan ke website kawalcovid19.id cara mencegah transmisi dan panduan isolasi diri

Referensi: