Lanjut ke konten

Kisah Dania: Berjuang Sembuh dengan Diagnosa Tidak Pasti

Benarkah Rumah Sakit mempositifkan banyak orang demi mendapat insentif pemerintah?

Kawal COVID-19's Avatar
Kawal COVID-19Tim administrator situs KawalCOVID19.id

Kamis, 2 Juli 2020. Saya tidur  awal karena badan sakit semua. Lewat sedikit tengah malam, saya terbangun karena tidak tahan dengan linu di badan dan keringat dingin. Kepala terasa berat dan sesekali terasa seperti disambar petir. Suhu tubuh saya 38,5o. Saya langsung minum obat turun panas dan air putih yang banyak; suhu hanya turun sedikit sesudahnya.

Dari tengah malam hingga subuh, saya nggak bisa tidur. Ngantuk, lelah, tetapi setiap berbaring, seluruh badan linu. Lengan saya mulai muncul bercak-bercak merah. Karena panik, Jumat pagi itu juga saya langsung pergi cek darah untuk demam berdarah (DB) dan tipes; hasilnya negatif.

Konsultasi dokter dan tes

Saya konsultasi online dengan dokter.  Saya diminta untuk tes DB kembali di hari ketiga demam, yaitu hari Minggu pagi. Di tes ulang ini hasil DB kembali negatif. Linu badan dan sakit kepala semakin tidak tertahankan. Nafsu makan hilang. Dokter meminta lagi untuk tes darah ulang di hari kelima (Selasa), dan saya langsung bawa hasilnya ke dokter internis yang sudah mendampingi saya dari hari pertama.

“Sudah pasti ini ruam karena virus,” ujar dokter yang memeriksa saya sembari berkata kemungkinan diagnosanya banyak. Setelah dia memeriksa tenggorokan saya, dia berkata ada infeksi sekunder. “Karena badan kamu sedang lemah, akhirnya mudah terkena infeksi lainnya, radang tenggorokannya parah ini,” tambahnya.

Dokter memberi saya antibiotika untuk radang tenggorokan. Ketika saya tanya mengapa tidak sekalian diberikan obat anti radang, dia berkata lebih baik tidak pakai anti radang dulu untuk jaga-jaga jika ternyata saya terkena COVID-19. “Antibiotika tiga hari saja. Kalau setelah dua hari antibiotika tidak ada perbaikan, lebih baik tes semuanya saja ya, termasuk swab (COVID-19),” ujarnya. Saya mengangguk.

Isolasi mandiri 

Selama di rumah, saya memberlakukan protokol seakan-akan terkena COVID-19. Saya mengurung diri di kamar, mencuci alat makan saya sendiri, minum hanya dari botol minum saya, dan sanitasi barang-barang sesudah saya pakai karena di rumah ada lansia. 

Saya minum vitamin dan air putih yang banyak, serta memaksakan makan walaupun sengsara di lidah maupun leher. Selain antibiotika dari dokter, gejala lainnya hanya pakai obat turun panas dan vitamin B kompleks. Setelah hari kedua, dokter menanyakan perkembangan kondisi saya. Saya utarakan bahwa radang tenggorokannya masih sakit untuk menelan ludah sekalipun. “Kalau sampai besok masih sakit, langsung tes lab ya,” ujarnya.

Saya tidur malam itu dengan sudah menyiapkan baju ganti jika besoknya perlu langsung rawat inap bila positif COVID-19. 

Keesokan paginya, saya bangun dan langsung mencoba menelan ludah. Anehnya, ternyata tidak sakit. Saya coba minum air yang biasanya sakit, juga bisa. Saya langsung memberitahu dokter, “Dok, ini kondisi saya pagi ini. Apakah masih perlu pergi tes?” 

“Kalau sudah sembuh ya tidak perlu tes. Istirahat saja plus vitamin supaya cepat pulih,” ujarnya. Saya sumringah. Sisa sakit leher masih ada, tetapi yang pasti sudah jauh lebih baik. Nafsu makan saya sudah mulai kembali. Total masa sakit hingga pulih total: 11 hari. 

Jadi saya sakit apa?

Tidak diketahui pasti karena keburu sembuh. Bisa jadi demam berdarah yang antibodinya telat keluar. Bisa jadi demam chikungunya tetapi tidak dites karena dokter mengatakan, “Kamu sembuh baru hasil tesnya keluar.” Bisa jadi infeksi virus lain. 

Bisakah saya COVID? Bisa juga karena ada gejala COVID-19 yang mirip dengan demam berdarah. Satu hal yang pasti, saya tidak asal divonis COVID-19 tanpa kepastian dari hasil tes swab, tetapi pada saat yang sama dokter juga berjaga-jaga untuk kemungkinan tersebut saat memberi saya obat.

Selain saya, ada beberapa kasus sakit di lingkungan saya yang awalnya kami duga COVID-19, tetapi ternyata dokter menyatakan bukan setelah melihat hasil tes. Apakah ada orang di sekitar saya yang ternyata positif COVID-19? Ada, itu pun dipastikan oleh hasil tes. 

Jadi, jika ada yang menuding bahwa angka COVID-19 di Indonesia tinggi karena para dokter asal memvonis COVID-19, saya bingung dari mana dasar pemikiran mereka tersebut karena fakta di lapangannya tidak demikian. Saya malah merasa angka positif COVID-19 kita seharusnya lebih tinggi daripada yang diberitakan karena pasti ada yang tidak bergejala sehingga tidak ke dokter, maupun yang bergejala ringan sehingga keburu sembuh sebelum sempat merasa perlu tes COVID-19.

Yang paling enak itu tidak sakit, dan menjaga orang-orang kesayangan kita untuk tidak sakit juga. Selain menjaga kesehatan lewat vitamin dan makanan, juga dengan memberlakukan protokol kesehatan norma baru saat harus keluar rumah. Semoga kita semua sehat selalu.

Artikel terkait: