Lanjut ke konten
Kawal COVID-19
Mode warna

Serial Data Virus Corona 4: Cara Memperbaiki Indeks Kewaspadaan

Serial data virus corona ke-4 ini menjelaskan bagaimana cara memperbaiki indeks kewaspadaan

Kawal COVID-19's Avatar
Kawal COVID-19Tim administrator situs KawalCOVID19.id

Poin utama tiga cara memperbaiki Indeks Kewaspadaan (IK):

  1. Memperbanyak Testing 
  2. Memperluas Pelacakan Kontak dan Isolasi di luar Kontak Dekat
  3. Mewaspadai Pelaku Perjalanan

Mari berandai-andai sejenak. Tersebutlah Daerah A dengan penanganan COVID-19 yang tipikal dan medioker: pelacakan dan isolasi hanya satu lingkaran kontak dekat dengan pasien positif dan tidak optimal. 

Diagram 4.1. Keadaan awal Daerah A

Daerah A ingin memperbaiki Indeks Kewaspadaan. Bagaimana caranya? Kami merangkum beberapa metode yang dijalankan pemerintah di berbagai negara/provinsi untuk mengurangi jumlah transmisi COVID-19 di komunitas yang tidak terdeteksi:

  1. Memperbanyak Testing 

Negara-negara Uni Eropa, Amerika Serikat, Sumatera Barat, Jawa Barat, dan DKI Jakarta adalah contoh yang melakukan testing masif. DKI Jaya, misalnya, menggunakan sekitar ⅓ jumlah testing nasional. Sementara itu, Sumatera Barat dan Jawa Barat menggunakan cara-cara inovatif dalam memperbanyak kapasitas testing untuk memperkuat isolasi dan penurunan jumlah kasus harian, seperti pool-testing (Sumbar) dan tes massal secara acak di tempat-tempat umum (Jabar).

Namun, perlu diingat bahwa memperbanyak testing tanpa isolasi dan penggunaan masker tidak cukup. Lihat saja Amerika Serikat yang jumlah testing-nya termasuk yang terbanyak di dunia tapi jumlah kasusnya tidak kunjung turun. 

Diagram 4.2. Kondisi Daerah A setelah tes dan isolasi diperbanyak

  1. Memperluas Kriteria Pelacakan 

Umumnya, pemprov dan pemda di Indonesia hanya melacak kontak erat (Diagram 4.1). Ini berbeda dari Korea Selatan, Vietnam, dan Thailand, di mana segelintir kasus positif bisa membuat ratusan bahkan ribuan orang dikarantina (Diagram 4.3). 

Di Korea Selatan, data-data pribadi dan jejak transaksi elektronik digunakan untuk melacak dan menemukan orang yang pernah berada di satu tempat secara bersamaan dengan orang yang terkonfirmasi positif. Klaster klab malam yang terjadi setelah pembukaan kembali beberapa kegiatan di Korsel menemukan 46.000 orang dari proses pelacakan kontak. Sementara itu, Vietnam menggunakan 4 – 5 lapis pelacakan kontak dari satu pasien terduga COVID.  

Memperluas kriteria pelacakan akan meningkatkan RLI secara drastis ke kisaran ratusan hingga ribuan (lihat Seri Data Corona 2). Cara inilah yang perlu ditingkatkan di Indonesia karena isolasi dan karantina yang agresif terbukti mampu menurunkan tingkat penularan secara efektif di Korea Selatan, Vietnam, dan Thailand. 

Diagram 4.3. Kondisi Daerah A setelah pelacakan diperluas ke lingkaran Ke-2, 3 dst dari pasien positif

  1. Mewaspadai Pelaku Perjalanan

Salah satu faktor penting dalam penyebaran wabah COVID-19 adalah pendatang. Singapura beberapa kali mengalami lonjakan kasus akibat kembalinya sejumlah orang dari Inggris dan Amerika Serikat di dua kurun waktu yang berbeda. 

Di Indonesia, bersamaan dengan berakhirnya PSBB di beberapa kota, penyebaran dari daerah-daerah yang tinggi IK-nya melalui commuting, jalur logistik, dan kegiatan ekonomi yang mempertemukan orang-orang dari berbagai daerah di satu tempat menjadi salah satu pendorong penyebaran wabah COVID-19 (Diagram 4.4). 

Hal ini kami amati di Jalur Pantura Surabaya-Semarang dan jalur logistik sepanjang Sungai Barito di Kalsel di mana kenaikan IK terjadi akibat penyebaran dari pusat wabah (Surabaya, Balikpapan) melalui jalur transportasi yang dipakai masyarakat (Pantura, Sungai Barito). 

Diagram 4.4. Ilustrasi penularan di tempat-tempat di mana orang lokal dengan IK rendah bertemu dengan pendatang dan pelaku perjalanan dari daerah – daerah dengan IK tinggi. 

Untuk mencegah penyebaran dari pendatang atau pelaku perjalanan, kita bisa mencontoh DI Yogyakarta, yang menetapkan semua pendatang sebagai ODP dan mewajibkan karantina terpusat atau mandiri selama 14 hari (lihat Diagram 4.5, kotak jingga). Tentunya akan lebih baik bila orang-orang tersebut bisa dites PCR. Penyebaran testing juga bisa dilakukan di titik-titik disembarkasi/embarkasi atau tempat-tempat perhentian, seperti rest stop area, gerbang tol, pom bensin, pasar, dan jembatan timbang (lihat Diagram 4.5, kotak biru dengan garis putus-putus). 

Tes PCR (atau bahkan Rapid Testing) keliling bisa dipertimbangkan untuk dilakukan di wilayah dengan arus penumpang keluar-masuk yang tak terhindarkan, seperti wilayah kepulauan (Kepri, Bangka Belitung, Nusa Tenggara). Alternatif lainnya adalah membatasi pintu-pintu akses dari dan ke sebuah daerah. 

Diagram 4.5. Tes acak di tempat-tempat tertentu, Isolasi Mandiri Wajib bagi pelaku perjalanan, dan Tes- Lacak – Isolasi bagi pelaku perjalanan. Contoh: Singapura, Taiwan, DIY, Kepri, Bangka Belitung, 

Akan tetapi, menurut hemat kami, pengetesan terhadap pelaku perjalanan lebih diperlukan bagi daerah dengan IK/tingkat transmisi komunitas rendah. Sementara itu, untuk daerah dengan IK tinggi, seperti Daerah A di Diagram 4.5, testing PCR lebih baik dialokasikan untuk memperluas pelacakan kontak, dibandingkan untuk mengetes pendatang. Selain itu, jumlah testing Daerah A tetap harus diperbanyak, seiring dengan pengetatan dalam isolasi, penggunaan masker, dan jaga jarak.