Lanjut ke konten
Kawal COVID-19
Mode warna

Seri Penyintas COVID-19: Anak Kami Tertular COVID-19 di Sekolah – bagian 1

Benarkah sekolah sudah aman untuk dibuka? Bagaimana jika ada yang positif di sekolah?

Kawal COVID-19's Avatar
Kawal COVID-19Tim administrator situs KawalCOVID19.id

Catatan Redaksi: UniR (12 tahun), begitu kami di KawalCovid19 memanggilnya, adalah putri sahabat kami yang bermukim di Inggris dan sudah lama aktif di berbagai gerakan akar rumput. Beberapa waktu lalu kami mendapat kabar bahwa UniR positif COVID-19, tertular di sekolah sehingga sekeluarga harus menjalani isolasi mandiri. Rekan kami bersedia berbagi pengalaman menjalani isolasi mandiri tersebut, yang kami sajikan dalam dua artikel. 

Kamis, 26 November 2020

Mulai hari ini, kami sekeluarga harus menjalani isolasi mandiri selama 12 hari karena salah satu putri kami, UniR, positif COVID-19. Memang hari Senin (23 Nov) lalu ia tidak masuk sekolah karena tidak enak badan, terutama di bagian perut. Keluhan pada perut biasa terjadi pada anak seusianya yang tengah memasuki masa baligh. Keesokan harinya UniR kembali bersekolah. Namun, saat saya menjemputnya, ia bercerita kalau pada hari Senin sekolah memulangkan kelas sebelah karena salah seorang murid positif COVID-19. Murid tersebut pun sempat berinteraksi dengan UniR pada hari Jumat sebelumnya.

Di rumah, sebelum makan malam, UniR tiba-tiba mengeluh demam. Saya segera mengecek slot tes di situs pemerintah. Namun hingga hari Sabtu slot sudah penuh. Tapi tunggu dulu, ada notifikasi slot khusus tersedia dalam 30 menit ke depan. Saya pun segera memboyong UniR ke tempat tes pada malam itu juga, yang dapat dicapai dengan 10 menit berkendaraan mobil dari rumah.

Saya sudah menduga. Walau kami sekeluarga beraktivitas dengan mengikuti protokol kesehatan, sekolah akan jadi satu-satunya yang berpotensi sebagai tempat penyebaran yang masif. Pemberlakuan lockdown pun tidak mengubah kondisi tersebut. Apalagi tak ada kewajiban menggunakan masker di sekolah baik siswa maupun guru. Dari empat anak kami yang bersekolah, tiga masih melakukan tatap muka tiap hari. Jadi situasi ini sudah kami skenariokan akan terjadi, agar kami sekeluarga siap.

Sejauh ini hanya UniR yang memperlihatkan gejala. Alhamdulillah tiga anak kami yang lain, istri, dan saya baik-baik saja.

Bismillaah, tawakkal ‘alallaah, ان شاء الله

Jumat, 27 November 2020

Karena hasil tes positif tersebut, kami wajib memberi tahu sekolah UniR. Begitu juga ke sekolah AdekN dan BangS, kami memberitahu bahwa saudara mereka terdiagnosis positif COVID-19 sehingga kami serumah harus isolasi mandiri.

Respon sekolah UniR sangat baik. Mereka segera menetapkan protokol meliburkan kelas. Lalu, mereka  juga memastikan kapan UniR pertama kali   mengalami gejala dan kapan terakhir anak-anak sekolah. Staf sekolah yang khusus mendata kasus COVID-19 pun menanyakan lebih detail, seperti, bagaimana UniR pergi ke sekolah, apakah naik kendaraan atau diantar; siapa saja yang makan siang bersamanya pada hari terakhir sekolah.

Terkait tugas, masing-masing sekolah memiliki pendekatan berbeda. Di sekolah BangS (Sixth Form, semacam college-level) misalnya, tiap murid harus meng-email para guru untuk mengkomunikasikan langsung tugas-tugas karena pelajaran yang diambil spesifik sesuai peminatan. Sedangkan sekolah UniR (Secondary School atau SMP) mengirim tugas sekolah ke rumah via pos. AdekN yang di Primary School (SD) sudah mengambil inisiatif duluan mengirim email menanyakan tugas sebelum dihubungi guru kelasnya (typical anak rajin 🙂). “Bu Guru, saya tidak boleh masuk sekolah. Tugas saya mana?” Begitu kira-kira pertanyaan AdekN ke gurunya.

UniR tetap tenang setelah mengetahui hasil tes. Rupanya informasi yang selalu kami berikan kepada anak-anak terserap dengan baik. Mereka tahu apa yang sedang terjadi, mengikuti apa yang harus dilakukan, dan tetap berpikir positif.

Di kamarnya, UniR banyak berkomunikasi dengan teman-temannya sembari istirahat. Mereka memberi semangat dan membagi cerita via video-call. Dari situ kami akhirnya tahu bahwa pada saat yang bersamaan, beberapa rekannya juga terdiagnosis positif. Sekolah akhirnya mengambil sikap tidak hanya meliburkan satu kelas, tetapi menutup seluruh sekolah untuk melakukan deep cleaning. Sehingga, untuk sementara waktu murid-murid belajar dari rumah.

Sabtu, 28 November (Hari ke-3)

Kemarin, sekitar enam jam setelah menerima hasil via email dan sms, kami mendapat telepon dari NHS (semacam DepKes yang khusus membawahi rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Inggris). Setelah menjalankan prosedur singkat untuk memastikan bahwa saya memang orang tua (parent/guardian) UniR, mereka menanyakan pergerakan UniR satu minggu sebelum bergejala, yaitu mulai 17 November. Dari situ, kami sama-sama mengambil kesimpulan bahwa UniR tertular di sekolah. Ini pun terkonfirmasi oleh pihak sekolah yang kemudian menutup sekolah untuk sementara waktu.

Petugas NHS juga mendata anggota keluarga kami yang lain. Mereka meminta kontak anggota keluarga yang berusia di atas 18 tahun untuk mereka hubungi kembali, yaitu BangS, UniK, istri, dan saya. 

Mereka segera mengirim SMS yang menyatakan bahwa kami terlacak telah berinteraksi dengan seseorang yang terkonfirmasi positif. SMS tersebut memuat link url berisi pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut yang harus segera dijawab. Lalu, tak sampai empat jam setelah SMS tersebut, NHS akan kembali menelpon mereka yang belum mengklik url tersebut dan meminta untuk segera melengkapi. Hari ini, petugas kembali menelepon kami masing-masing untuk menanyakan kondisi terakhir dan aktivitas kami di rumah. Mereka pun menanyakan jika kami mengalami kesulitan untuk membeli bahan keperluan sehari-hari. 

Saya bisa membayangkan workflow system yang demikian tertata rapi dengan menugaskan staf NHS melacak kondisi masing-masing warga yang tengah melakukan isolasi mandiri, lalu mengupdate sistem dengan data-data tersebut. 

Aggregate data dibawa ke pengambil keputusan untuk memonitor manajemen resource yang diperlukan untuk mengelola track and trace seperti ini. Saat peak, kasus bisa mencapai 30 ribu per hari. Jika dikali rata-rata dua termasuk anggota keluarga yang diisolasi, minimal akan ada 60 ribu call yang harus terjadi. Belum lagi jika ada follow-up call bagi kasus aktif selama isolasi berlangsung. Resource management mesti efektif agar hasil optimal. 

Masing-masing dari kami kemudian menginstall aplikasi NHS Contact Tracing yang sudah disertakan dengan SDK terakhir dari Apple/Google (https://covid19.apple.com/contacttracing). Khusus untuk UniR, tampilan di smartphonenya sedikit berbeda, karena terdapat informasi masa isolasi yang harus ia lalui. 

Saat ini, kondisi UniR sudah stabil. Ia terisolasi di kamar terpisah dengan kamar mandi khusus untuknya.  

Saya bersyukur dia tidak merasakan banyak perbedaan walau menjalani isolasi. Memang dia tidak bisa sekolah, tapi suasana yang sama di rumah tak membuat mentalnya jatuh. “Dibanding harus melihat rumah sakit dengan perawat atau dokter yang berkeliaran, anggap saja UniR perlu istirahat di rumah karena demam,” begitu yang selalu kami sampaikan kepadanya.

Alhamdulillah, dengan menjalankan protokol kesehatan di rumah, kami yang lain juga dalam keadaan baik-baik saja.

Selasa, 1 Desember (Hari ke-7)

Dalam empat (4) hari, UniR akan selesai isolasi di kamar, atau delapan (8) hari untuk kami sekeluarga. Ditemani Alexa* dan tablet, walau semua kegiatan dilakukan di kamar, dia tetap menikmati hidup normal termasuk mengkonsumsi materi sekolah secara online.

Tiap pagi ia keluar lewat jendela kamar, lalu nongkrong di atas genteng menikmati pagi sambil memandang rumput hijau di halaman. Walau dingin (5 derajat), ia cukup mendapat UV matahari dan bisa menghirup udara pagi yang bersih. Setelah itu, biasanya ia facetime dengan teman-temannya untuk bertukar kabar, terutama apa saja yang mereka lakukan saat semua murid terpaksa belajar dari rumah.

*Alexa adalah asisten virtual AI (artificial intelligence) yang mampu berinteraksi suara, memutarkan musik, membuat to-do list, mengatur alarm, streaming podcast, memutar audio book, dan menyediakan informasi cuaca, lalu lintas, olahraga dan berita. 

Kami berinteraksi dengan UniR dengan melongok dari depan pintu kamar atau menggunakan fasilitas intercom via Alexa. Istri dan saya selalu di sampingnya. Paling tidak kami melihat kondisinya dari dekat tiga kali sehari. Jika keluar manjanya, ia minta ibunya untuk menyuapkan 

makan. Kami pakai masker dan glove tiap kali berdekatan dengannya, UniR pun biasa saja menanggapinya.

Demam UniR kini sudah turun. Hanya tiga hari pertama suhu tubuhnya tinggi. Mulai hari keempat, kondisinya stabil. Tapi, sejak hari kelima penciumannya menghilang. Kami tersadar sewaktu ia protes tak bisa mencium aroma nasi briyani kesukaannya. Setelah menelan sesuap, baru dia bisa mengkonfirmasi bahwa ia memang makan briyani, bukan nasi biasa.

Lalu, ketika kami menyodorkan biji kopi kesukaannya atau parfum yang menyengat, UniR berkomentar sama saja. Seperti udara biasa dan tak ada bedanya, katanya. Jadi indra pengecap UniR normal, namun indra penciumannya hilang sama sekali.

COVID-19 dapat merusak olfaction, sel yang membuat kita dapat mencium perbedaan berbagai aroma (NHS Articles – Research into restoring loss of smell and taste in COVID patients). Namun sel ini beregenerasi setiap enam minggu. Penelitian pun mulai banyak dilakukan untuk menemukan terapi yang tepat agar dapat mengembalikan keajaiban Tuhan tentang indra penciuman manusia. No rush Uni, take your time. Allah will help us. Insya Allah 🤲✊

Kamis, 4 Desember (Hari ke-10)

Esok pagi, isolasi UniR akan berakhir. Kondisinya stabil, demam pun hilang. Hanya indra penciumannya yang masih belum kembali. Semua aroma masih berbau seperti udara, katanya. Masa pemulihan dari anosmia atau kehilangan penciuman bisa berbeda untuk setiap orang. Ini salah satu efek long COVID yang masih diteliti oleh para ahli. Ada yang bisa kembali normal dengan cepat, ada yang membutuhkan waktu. UniR sepertinya masuk golongan kedua.

Hasil penelitian sementara yang dilakukan di Eropa, kehilangan penciuman dan/atau rasa rata-rata berlangsung selama 8 – 9 hari. Berdasarkan 98% dari sampel penelitian, gejala ini hilang sama sekali dalam 28 hari (Journal PMC – Features of anosmia in COVID-19).  Hari ini UniR memasuki hari ke-6 kehilangan penciuman.

Setelah isolasi mandiri UniR selesai, seisi rumah yang lain masih harus melanjutkan isolasi hingga empat hari. Hari ini pun petugas NHS menelepon saya, mewanti-wanti bahwa seisi rumah yang lain secara hukum harus tetap melanjutkan isolasi mandiri. UniR akhirnya memilih tetap di rumah seperti kami sampai empat hari ke depan. Tidak sabar rasanya saya dan istri menunggu untuk dapat memeluk dan mencium UniR. Kangen.

Selasa, 8 Desember (Pukul 23:59 GMT, hari ke-14)

Syukur alhamdulillah, UniR berhasil menyelesaikan masa isolasi mandiri tanpa gejala baru. Bukan hanya itu, kami sekeluarga sudah merampungkan masa isolasi mandiri. Tepat 8 Desember pukul 23:59 GMT, kami “bebas”, begitu tertulis di aplikasi NHS Track and Trace yang terus mengontrol kami. 

Jadi sebenarnya apa yang terjadi? UniR terinfeksi di sekolah. Ia sempat ngobrol dengan temannya yang kemudian terkonfirmasi positif. UniR memang selalu menggunakan masker, tapi temannya tidak, karena memang tidak diwajibkan oleh sekolah. Lalu, tiga hari  kemudian temannya terkonfirmasi positif. Sedang UniR, keesokan harinya mulai demam dan malamnya langsung saya bawa untuk swab test. Dua hari setelah itu sekolah diliburkan karena ternyata beberapa teman UniR juga positif.

Saat UniR mulai demam, memang saya sendiri yang mengantarnya ke tempat test drive-thru. Hanya UniR yang tes, karena di rumah hanya dia bergejala. Di mobil, UniR duduk di kursi belakang. Tapi di tempat test dia sempat memajukan badan karena saya mesti mengambil sampel swab. Saya pun tak yakin apakah saat itu saya melakukan langkah-langkah higienis. Sepertinya saya sempat menyentuh sampel swab tersebut. Selain itu, kami duduk berdekatan tanpa masker. Asumsi saya, virus masuk ke tubuh saya. Karena saya berinteraksi dengan istri dan tiga anak yang lain, virus mestinya sudah menyebar tak jelas walau UniR kemudian kami isolasi di kamar. Wallahu’alam.

Selama isolasi mandiri, kami beraktivitas seperti biasa. Makanan kami pun tak ada yang spesial. Suplemen vitamin D kami konsumsi seperti yang memang biasa kami lakukan. Alhamdulillah anak-anak tak banyak terpengaruh secara mental. Secara hukum, kami dipantau ketat. Hampir setiap hari petugas NHS menelepon kami, kecuali AdekN dan UniR yang keduanya berusia di bawah 18 tahun. Mereka ingin memastikan kami tidak ke mana-mana dan tetap berada dalam kondisi yang baik. Jika ada masalah, kami harus menghubungi nomor gawat darurat 111. Alhamdulillah semua dapat kami lalui dengan baik.

Di Inggris, swab test hanya diberikan bagi yang bergejala atau diperintahkan oleh council. Peraturan juga menetapkan tak perlu swab test kembali untuk menyatakan sembuh, tetapi cukup keluar dari masa isolasi mandiri tanpa gejala demam. 

Istri, UniK, BangS, AdekN, dan saya tak perlu menjalani swab test karena selama masa isolasi tak menunjukkan gejala apapun. Sesuai rekomendasi WHO (26 Mei 2020), kami dapat memilih kriteria symptom-time based. Asal sudah tidak ada gejala dan sudah melewati waktu tertentu, kami dinyatakan sembuh tanpa evaluasi swab test/PCR. Video Dr. Tonang – Sudah Selesai Isolasi Kok Masih Positif Lagi?

Yang tak kalah melegakan adalah ketika kami mendapat kabar bahwa guru yang mulia Mbah Kyai Said Aqil Siradj juga dinyatakan sembuh. Berdasarkan perhitungan saya, masa isolasi mandiri beliau berbarengan dengan kami. Ya Allah, semoga penyakit ini menjadi penggugur dosa-dosa beliau. Semoga sehat terus, Yai 🤲 #ciumtangan

Akhirnya, saya mengucapkan terima kasih kepada semua sahabat yang telah memberikan perhatian dan doa. Hanya Tuhan yang bisa membalas semua itu dan segera mengangkat pandemi ini dari muka bumi. Aamiin.

=======

KRONOLOGI

Artikel terkait:
Seri Penyintas COVID-19: Anak Kami Tertular COVID-19 di Sekolah – bagian 2