Lanjut ke konten
Kawal COVID-19
Mode warna

Seri Pengawal Pagebluk: Kendala Lapangan Analis Medis di Kalimantan Selatan

Seorang analis kesehatan di Kalimantan Selatan memaparkan faktor-faktor yang menyebabkan hasil swab lama dipublikasikan, mulai dari kekurangan SDM, kecilnya kapasitas alat tes, hingga data yang tidak sinkron.

Kawal COVID-19's Avatar
Kawal COVID-19Tim administrator situs KawalCOVID19.id

Penulis: Akhmad Dairobi, A.Md.AK. (ATLM di salah satu rumah sakit di Kalimantan Selatan)

Berbicara tentang garda terdepan dalam penanganan COVID-19 di Indonesia, analis medis/kesehatan atau lengkapnya Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) terkadang luput dari perhatian, padahal peran mereka sentral dalam testing sehingga masyarakat bisa memantau statistik harian. Singkatnya, ATLM adalah lulusan pendidikan Teknologi Laboratorium Medik yang memiliki kompetensi untuk menganalisis cairan dan jaringan tubuh manusia untuk menghasilkan informasi tentang kesehatan perseorangan dan masyarakat.

Terkait COVID-19, seringkali muncul pertanyaan kenapa hasil swab lama sekali dipublikasikan. Ada beberapa faktor yang saya tahu dari pengalaman sendiri dan dari teman-teman di lab PCR.

Faktor pertama adalah kekurangan SDM dalam proses swab. Saat ini garda terdepannya adalah ATLM, meskipun ada beberapa dokter yang ikut melakukan swab. Namun, jumlah tenaga yang melakukan swab dan jumlah pasien sangat timpang. Di kabupaten tempat saya bekerja saja, swab dilakukan hanya pada hari-hari tertentu, misalnya 2-3 hari dalam seminggu. 

Di Kalsel pun, kami punya tim relawan khusus bentukan Organisasi Profesi Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (PATELKI) Kalsel yang tugasnya keliling daerah hanya untuk membantu pelaksanaan swab. Sebagai contoh, jika satu daerah kekurangan orang, 1 tim diberangkatkan ke sana. Ini bukti bahwa SDM pelaksana swab di tiap daerah memang kurang dan tidak merata. ATLM sendiri punya pekerjaan lain di lab selain menangani COVID-19. 

Kedua, kami kekurangan SDM untuk menjalankan alat PCR. Alat ini memang canggih dan tidak semua ATLM memiliki kualifikasi untuk mengoperasikannya, dari persiapan sampai keluar hasil. Secara keilmuan, yang berkompetensi adalah ATLM yang lulus Diploma 4 (D4), sedangkan saat ini lulusan D4 mungkin hanya sekitar 10-15% dari keseluruhan jumlah ATLM yang ada di indonesia. Namun, karena ini situasi darurat pandemi, diambil jalan tengah untuk mengatasinya. Mereka yang tidak mempunyai kompetensi (ATLM Diploma 3) diberi pelatihan khusus untuk menggunakan alat PCR dan kemudian bekerja di bawah pantauan yang berwenang (ATLM D4). 

Faktor ketiga adalah kapasitas pemeriksaan PCR. Dari sekian tahap pemeriksaan, proses ekstraksi adalah salah satu yang terlama, bisa mencapai 4-8 jam, tergantung kemampuan dan kecepatan alat dalam pemrosesan. Sebagai gambaran, jika suatu alat PCR punya kapasitas pemeriksaan sebanyak 500 sampel swab per harinya (24 jam non-stop), sedangkan sampel swab yang datang sekitar 1000 per hari, waktu tunggu sampai hasil keluar terus bertambah.

Seberapa giat pun kami melakukan swab, kalau kapasitas pemeriksaan tidak ditingkatkan, ini akan membuat antrian panjang hanya untuk mendapatkan hasil swab. Di pulau Jawa, antriannya mungkin tidak sepanjang di Kalimantan. Bahkan dulu di awal pandemi, sampel swab yang kami kerjakan menunggu sampai 15 hari sampai bisa diperiksa. 

Di samping itu, tidak semua lab bisa melakukan pemeriksaan PCR karena Biosafety Level sebuah lab harus mencapai minimal 2. Karena jumlah lab PCR terbatas, setiap kali akan mengirim sampel ke lab PCR, kami harus konfirmasi dulu berapa sampel yang mau dikirim. Jika lab-nya sedang kewalahan, sampelnya kami simpan sambil mencari lab yang bisa memproses. Sampelnya bahkan bisa tertahan 1-2 hari di rumah sakit. Kalau dalam skala puskesmas, sampel biasanya dikumpulkan ke Dinas Kesehatan (Dinkes) dan baru dikirim ke lab pemeriksaan atas nama Dinkes. Ini yang juga menyebabkan kenapa sampel tidak langsung diperiksa setelah diambil. 

Faktor terakhir adalah masalah publikasi data. Terkadang ada data yang tidak sinkron antara lab pemeriksa dan pemda/pemprov setempat. Di awal pandemi malah datanya sempat tidak sinkron dengan data nasional. Di Kalsel sendiri, ini terjadi karena sistem input terkendala oleh KTP. Ada pasien yang punya 2 KTP. Ada juga pasien yang KTP-nya daerah A tapi ternyata dia sudah lama menetap di daerah B. Tidak jarang ini membuat data menjadi tumpang tindih.

Dari pemaparan di atas, bisa terlihat bahwa masalah data kasus COVID-19 terkait erat dengan kapasitas testing dan kurangnya SDM. Kami para ATLM akan terbantu jika SDM bisa ditambah, tapi kami akan lebih senang lagi jika masyarakat sebisa mungkin mengurangi 3K (Kontak erat, Kamar/ruang tertutup, Kerumunan). Berikan kami waktu untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah menumpuk. Kalaupun harus keluar rumah, selalu waspada dan lakukan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan dengan sabun, Menjaga jarak).

Bacaan lebih lanjut: